Tahun 2015 menjadi tahun ketujuh yang menandai perjalanan Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti, yang dulunya Kementerian Riset dan Teknologi) sebagai koordinator seleksi proposal penelitian Science and Technology Partnership for Sustainable Development (SATREPS). Berhasil memperoleh hibah penelitian untuk total 13 proposal pemenang semenjak tahun 2008 sampai dengan 2014, Kemristekdikti menilai Indonesia sebagai lumbung bioresources dan natural disaster research seharusnya berpeluang lebih besar dari negara peserta SATREPS lainnya. Pemikiran inilah yang kemudian menjadi gagasan utama dilaksanakannya Workshop and Expose SATREPS 2015 (WES 2015).

Bertempat di Hotel Millenium pada 24 Agustus 2015, acara yang menggabungkan konsep workshop dan pameran di dalam satu ruangan berhasil menarik minat sekitar 120 peserta yang berasal dari perwakilan dari perguruan tinggi (Rektor, perwakilan rektor, dekan, ketua atau perwakilan LPPM dan staf pengajar), Balitbang dan Bappeda berbagai daerah termasuk daerah tengah dan timur Indonesia seperti Sulawesi dan Papua, para peneliti dari Kementerian/Lembaga pemerintahan Non Kementerian (LPNK) serta perwakilan dari beberapa asosiasi terkait. Adapun booth pameran diisi oleh 6 pemenang SATREPS 2008-2012 yang sudah memiliki implementasi yang sedang berjalan.

“Kami dan juga pihak Pemerintah Jepang menyadari bahwa pemenang kerjasama dana/hibah SATREPS ini kebanyakan institusi yang itu-itu saja, dan berasal dari Indonesia Barat sehingga peningkatan kemampuan para peneliti dari hasil kerjasama ini juga tidak merata di seluruh Indonesia”, demikian pernyataan Ir. Nada Marsudi, M. Phil., Kepala Biro Kerjasama dan Komunikasi Publik Kemristekdikti saat mewakili Sekretaris Jenderal Kemristekdikti membuka acara WES 2015. “Untuk itulah penyelenggaraan acara ini juga sebagai sarana sosialisasi SATREPS agar informasi ini dapat diserap oleh para peneliti di Indonesia. Diharapkan masyarakat, khususnya para peneliti dari berbagai institusi/ lembaga riset nasional, perguruan tinggi dan unit riset di industri dapat mengenal dan memahami program SATREPS, dan apa hasil-hasil risetnya yang dapat ditindaklanjuti oleh industri agar menghasilkan suatu produk. Lebih lanjut, diharapkan pada tahun 2015, setelah acara SATREPS ini kami akan menerima banyak proposal yang biasanya akan dibuka pada bulan Oktober 2015”, lanjut beliau lagi yang langsung mendapatkan sambutan spontan yang positif dari seluruh peserta yang hadir.

Sesi pertama diisi oleh  keynote speech dari Prof. Masahiko Abe, Vice President of Tokyo University of Science mengenai the Experience of Japan in Innovation dan Comercialization of Research Products, dilanjutkan sesi kedua yang membahas program dan prosedur SATREPS oleh Dr. Keisuke Kosaka (Senior Researcher Japan Science and Technology Agency) dan Ir. Nada Marsudi, M.Phil, serta Foreign Research Permit Procedure oleh Sri Wahjono, Kasub. Bagian Administrasi Perizinan Peneliti Asing Kemristekdikti.

Sesi terakhir menjadi sesi yang paling menarik bagi para peserta karena khusus membahas success story dari para pemenang proposal sebelumnya. Sesi ini diisi oleh Dr. Yopi Sunarya (Puslit Bioteknologi LIPI), Dr. Joni Prasetyo (Pusat Teknologi Pengembangan Sumber Daya Energi- BPPT) dan dr. Srihadi Agungpriyono, DVM, PhD (Dekan Fakultas Kedokteran Hewan-IPB). Berbagai tips dan trick untuk menghasilkan proposal yang berkualitas dan mendapatkan mitra kerjasama Jepang pun dibagikan secara leluasa. “Meskipun sebelumnya kami gagal lulus seleksi, tapi kami tetap mencoba memperbaiki kegagalan dan terus submit proposal lagi dan lagi, sampai akhirnya kesempatan itu datang dan menjadi pemenang di tahun 2014”, demikian ujar dr. Srihadi Agungpriyono yang menekankan perlunya belajar dari kegagalan dan pengalaman dari mereka yang sudah sukses sebelumnya.

Di akhir sesi Dr. Yopi Sunarya pun menambahkan, “Kami juga sangat merasakan pentingnya berkoordinasi dengan pihak Kemristekdikti dalam penyusunan proposal, sebagai koordinator pelaksana seleksi SATREPS yang melaksanakan peer review meeting di setiap tahunnya, focal point Kemristekdikti sangat membantu kami untuk menghasilkan proposal yang berpeluang untuk menang”.

Workshop ditutup dengan closing statement singkat dari Tiomega Gultom, Kepala Bidang Analisis dan Perancangan Jaringan Iptek Internasional yang menginformasikan bahwa setiap tahunnya seleksi SATREPS akan dibuka pada September-Oktober serta akan diumumkan melalui website Kemristekdikiti, dan diharapkan dengan adanya acara ini akan semakin banyak peneliti yang mengajukan proposalnya. (KSKP-KEMRISTEKDIKTI)