Masih dalam rangkaian acara peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional ke-20, Kemenristekdikti mengadakan Rakornas Iptek 2015 pada Selasa, 4  Agustus 2015, di ruang Auditorium Gedung 2 BPPT. Rakornas  Iptek 2015 diawali dengan serangkaian acara antara lain Pra Rakornas Iptek 1 pada tanggal 1 Juli 2015 dan Pra Rakornas 2 pada  8 Juli 2015.

“Tujuan dari Rakornas Iptek 2015 yang dihadiri oleh 400 tamu undangan dari berbagai institusi dan lembaga yang mewakili komponen Academician-Business-Government adalah untuk menghasilkan konsensus dan komitmen yang dapat mempererat kerjasama semua stakeholder riset, iptek dan pendidikan tinggi dengan dunia usaha atau industri dalam rangka peningkatan pemanfaatan dan pendayagunaan hasil-hasil riset (hilirisasi produk riset) guna mendukung peningkatan nilai tambah, daya saing dan perekonomian nasional”, ujar M. Nasir dalam sambutan pembukaan rakornas yang  dihadiri juga oleh Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani.

Dalam diskusi yang berlangsung secara konstruktif dan produktif dal Rakornas Iptek 2015  menghasilkan butir-butir dan rekomendasi yaitu, pentingnya membangun dan mewujudkan Rencana Induk Pembangunan Iptek Nasional (RIPIN) yang visioner (berwawasan jangka panjang yang mengakomodasi kebutuhan iptek bagi industri dan pengguna hingga tahun 2045).
M. nasir menjelaskan rencana induk ini akan menjadi pedoman legal dengan posisioning kebijakan yang jelas, sistematis dan visioner.

“Perlunya kebijakan yang mampu mendorong tumbuh kembangnya lembaga intermediasi (antara lain STP, inkubator dll.) yang dapat memberikan fasilitasi informasi, interaksi komunikasi dan kolaborasi dua arah yakni penghasil teknologi (lembaga litbang, perguruan tinggi) dengan pengguna teknologi (industri, pengusaha, pemerintah),” lanjut M. Nasir

“kita harus mencoba mengembangkan teknologi yang baru dalam hal ini kaitan dalam energi yaitu renewable energy atau energi baru terbarukan khususnya di bidang geothermal, mikrohidro, mungkin yang terkait dengan solar cell yang dalam hal ini yang sangat penting bagi kita,” harap M. Nasir

M. Nasir juga menyatakan perlunya kesepahaman tentang rencana aksi dan inplementasi proses hilirisasi teknologi dari lembaga riset ke industri/badan usaha agar proses hilirisasi berjalan secara tepat dan cepat. Perlunya kebijakan pemerintah mampu mendorong peningkatan lembaga keuangan, mampu meningkatkan komunikasi dan ineraksi serta kerjasama antara lembaga riset dengan dunia usaha.(is-pkl/bkskpristekdikti)