KUTO BARU – Jalan becek dan sempit di Desa Cot Preh, Kecamatan Kuto Baru, Kabupaten Aceh Besar justru semakin membuat semangat Menteri Riset, Teknologi, dan PendidikanTinggi Mohamad Nasir untuk menemui salah satu mahasiswa penerima beasiswa Bidikmisi yaitu Mahrul Nida.

Kedatangan Nasir dan rombongan di rumah Nida disambut baik keluarga Nida. Meskipun rumah Nida berbentuk rumah panggung yang sudah reyot, namun nampak kehangatan dalam keluarganya.

Nasir pun langsung menanyakan kepada Nida bagaimana perasaannya pada akhirnya bisa mendapatkan Beasiswa Bidikmisi.

“Senang sekali, tak mengira dapat kuliah di Unsyiah. Dulu kakak pernah coba, namun tak dapat Bidikmisi. Tapi saya akhirnya dapat,” ujar Nida dengan logat khas Aceh yang kental.

Nida menceritakan kepada Nasir awalnya penuh keputusasaan karena tahu mungkin tak dapat kuliah karena Bapak dan Ibunya hanya bekerja serabutan, tidak punya pekerjaan yang tetap. Namun kini Nida berhasil masuk Universitas Syiahkuala dan diterima di Fakultas Hukum.

Nasir pun beralih menanyakan kepada orangtua Nida bagaimana perasaannya anaknya dapat diterima di Unsyiah dengan Beasiswa Bidikmisi. Jawaban luar biasa pun keluar dari ibu Fatimah, ibunda dari Nida.

“Sejak dulu kami selalu berusaha agar anak-anak kami bisa dapat pendidikan. Kami tak bekerja tetap. Namun, meskipun kami akan tinggal di kolong jembatan sekalipun, kami akan tetap menyekolahkan anak kami. Dengan adanya Bidikmisi ini, beban kami mulai berkurang,” ujar Fatimah dengan lirih.

Fatimah berharap Nida dapat terus melanjutkan kuliah bila sudah lulus S1, namun khawatir karena biaya tidak ada.

“Jangan takut, akan kami biayai sampai jenjang apapun, bila memang Nida berniat, kami berikan beasiswa sampai jenjang selanjutnya, yang penting Putrinya rajin belajar dan bisa berprestasi,” ucap Nasir. (DZI)