BANDUNG – Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir meresmikan 4 gedung baru Institut Teknologi Bandung (ITB) dan menandatangani serah terima aset kampus Jatinangor ITB dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat kepada ITB, Senin (29/8).

Bertempat di aula gedung CAS (Center of Advance Studies) ITB, Nasir meresmikan 4 buah gedung baru ITB yang dibangun dengan dana pinjaman dari JICA, Jepang. Keempat gedung tersebut adalah gedung (1) Center for Advanced Sciences (CAS); (2) Center for Art; Design and Language (CADL); (3) Center for Infrastructure and Built Environment (CIBE); dan (4) Center for Research and Community Services (CRCS).

Gedung CAS, utamanya akan mewadahi kegiatan penelitian Advanced Sciences diantaranya penelitian-penelitian terkait nanoteknologi. CAS akan dilengkapi dengan berbagai peralatan canggih, diantaranya yang telah ada saat ini adalah Scanning Electron Microscope (SEM) dan Transmission Electron Microscope (TEM). Terdapat laboratorium Akustik yang canggih di gedung ini, yang terdiri dari Semi-Anechoic dan Anechoic Chamber serta Reverberation Room. CIBE mempunyai laboratorium struktur yang dapat melakukan pengukuran bangunan dengan ukuran sebenarnya (s.d. bangunan dengan tinggi 9.8 m atau setara 3 lantai). Laboratorium ini dilengkapi strong wall dan strong floor untuk pengujian. Gedung CADL digunakan untuk pengembangan seni, desain, dan bahasa, sementara gedung CRCS akan melayani kerja sama dalam penelitian dan pengabdian masyarakat.

Rektor ITB Kadarsyah mengatakan, “gedung-gedung yang dibangun ini kebanyakan dibuat untuk mendukung program hilirisasi industri, sesuai yang dicanangkan oleh Kementerian dan Pemerintah.”

Menurut Mohamad Nasir, ada keyakinan bahwa negara maju adalah negara yang masyarakat ekonominya digerakkan oleh ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni (knowledge-driven economy). Dengan kata lain, arah pembangunan negara maju terus mengutamakan penciptaan, pengembangan, dan pemanfaatan Ipteks, juga modal intelektualnya, sebagai modal inti yang menentukan kekuatan, kemakmuran, dan kesejahteraan bangsa. Dengan demikian, bagi Indonesia, untuk bisa masuk ke kategori negara yang ekonominya digerakkan oleh inovasi (innovation driven) seperti yang telah dicapai negara maju, mau tidak mau kita harus bersaing dalam penguasaan Ipteks untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya dan mempertahankan integritasnya sebagai suatu negara. Ipteks dipakai sebagai alat untuk memperbaiki kualitas kehidupan, kesejahteraan, serta mengembangkan budaya dan peradaban.

“Karena itu, peran Perguruan Tinggi akan selalu dan semakin penting karena sumber daya manusia dan ilmu pengetahuan yang dihasilkannya akan menjadi kekayaan yang tak ternilai dan menjadi modal bangsa dalam menghadapi setiap perubahan dan persaingan di percaturan global,” ungkap Nasir dalam sambutannya.

Nasir menambahkan, walaupun demikian Perguruan Tinggi tidak dapat bekerja sendiri, tetaplah diperlukan dukungan kerjasama yang saling menguntungkan antara Universitas, industri, dan masyarakat, termasuk tentu saja Pemerintah daerah/kota. Hal ini pada gilirannya dapat mengembangkan pendayagunaan Ipteks yang lebih inovatif di masyarakat dan melandasi perkembangan Ipteks secara nasional. ITB menurutnya harus menjadi center of excellence Indonesia di bidang engineering. Selain itu tambahnya, riset dan inovasi harus ditingkatkan.

“Apalagi ITB juga sudah punya Pusat Unggulan Inovasi (PUI), jadi harus kompetitif. Kedepan harus dipisahkan oleh para peneliti mana riset yang value added dan mana yang tidak value added, selain tugas kami adalah memangkas regulasi-regulasi yang tidak sesuai lagi, tidak hanya secara internal, tetapi juga melibatkan Kementerian lain,” ujarnya.

Hibah Aset Kampus ITB Jatinangor

Seperti diketahui bersama, ITB sejak tahun 2010 hingga 2016 ini telah melakukan pembangunan gedung dan infrastruktur lainnya untuk mendukung kegiatan akademik ITB di daerah Jatinangor. Dimana aset tempat pembangunan tersebut masih merupakan milik/dikuasai Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

“Dengan komunikasi intensif, akhirnya Bapak Gubernur Jawa Barat memberikan keputusan untuk hibah aset tersebut, sehingga akhirnya aset tersebut kini sudah resmi dikuasai oleh ITB sepenuhnya, kami amat berterima kasih kepada Pemprov Jawa Barat,” ucap Kadarsyah.

Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan menjelaskan bahwa kenapa Pemprov Jawa Barat amat mendukung kerjasama seperti ini, karena bila memungkinkan hasil-hasil penelitian dari ITB manfaatnya langsung dapat dirasakan oleh masyarakat Jawa Barat. “ITB itu ada di Jawa Barat, karenanya hasil-hasil inovasinya harus dinikmati masyarakat Jawa Barat dahulu, bukan dari luar, karena itu Pemprov amat mendukung kerjasama seperti ini,” ujarnya.

Selain itu juga sedang dipersiapkan kampus terbaru ITB di Cirebon dimana proses pembangunan dan asetnya juga sedang dipersiapkan. (Dzi)

Galeri