JAKARTA – Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Mohamad Nasir, mendorong Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi (PAIR) Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) untuk terus melakukan pengembangan teknologi radiasi di berbagai bidang yang dapat dimanfaatkan untuk masyarakat. Hal itu ditegaskan Menristekdikti ketika menghadiri peringatan hari jadi PAIR-BATAN ke-50 tahun yang digelar di Gedung Pertemuan PAIR, Kawasan Nuklir, Pasar Jumat, Jakarta Selatan, Selasa (20/12).

Direktur Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan Dr. Muhammad Dimyati dan sejumlah pejabat terkait juga tampak hadir mengikuti acara peringatan HUT PAIR-BATAN tersebut.

Dalam laporannya, Kepala BATAN, Djarot Sulistio Wisnubroto, mengatakan bahwa anggaran PAIR – BATAN pada tahun 2016 tidak banyak, yakni hanya 78,2 miliar setahun. Anggaran tahun 2017 turun lebih kecil lagi.  Kendati demikian, kata Djarot, hasil kerja PAIR – BATAN cukup banyak dan telah mendunia serta diaplikasikan di berbagai daerah.

Djarot mengatakan, dalam usianya yang ke-50 PAIR-BATAN telah melakukan pengembangan teknologi radiasi di berbagai bidang, baik itu pangan, industri dan lingkungan. Meski jumlah karyawan terus berkurang, PAIR-BATAN terus berupaya untuk menghasilkan produk penelitian yang bermanfaat untuk rakyat. Karena itu, pada HUT ke-50 PAIR-BATAN ini Djarot mengundang Menristekdikti untuk hadir melihat hasil karya PAIR-BATAN. “Pak Menteri, PAIR sudah mendunia. Di jejaring internasional sudah dikenal, terutama untuk pertanian dan pangan. Pengakuan itu bukan hanya dari badan tenaga atom internasional, tapi juga didapat dari FAO,” jelas Djarot.

Menristekdikti mengakui bahwa pengetahuan masyarakat terhadap teknologi nuklir atau teknologi radiasi masih terbatas. Jika bicara nuklir atau radiasi, yang diingat masyarakat umumnya hal yang buruk-buruk, seperti tragedi Chenobil atau Fukhusima. Padahal, jika teknologi ini dapat dikembangkan dengan baik dapat memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat.

Untuk itu, Menristekdikti mendorong PAIR BATAN agar terus melakukan pengembangan teknologi radiasi di berbagai bidang yang dapat dimanfaatkan untuk masyarakat.  Menurut Menristekdikti, keterbatasan anggaran riset bukan menjadi alasan atau keluhan, tetapi hal itu dapat mendorong kita untuk berani fokus dan memilih mana yang prioritas dan mendesak untuk kita lakukan ke depan. “Yang terpenting dari kegaitan litbang itu sudah dapat dimanfaatkan untuk masyarakat atau belum,” papar Nasir.

Dalam kesempatan tersebut, Menristekdikti melihat dari dekat berbagai macam hasil karya litbang PAIR-BATAN di arena pameran. Dari litbang mutasi radiasi PAIR-BATAN kini sudah menghasilkan 22 varietas unggul padi, 10 kedelai, 2 kacang hijau, 3 sorgum dan 1 gandum. Selain itu juga terdapat inovasi untuk kesehatan maupun pengembangan plastic ramah lingkungan.

Menristekdikti juga meninjau berbagai fasilitas PAIR-BATAN, seperti  iradiasi untuk pengawetan bahan pangan maupun mutasi bibit unggul dan berbagai macam tanaman di National Science Park (NSTP). Dalam peninjauan lapangan, Menristekdikti memberikan apresisasi positif kepada PAIR-BATAN karena hasil kerjanya sudah bisa dimanfaatkan oleh masyarakat. Salah satunya benih unggul Inpari Sidenuk yang sudah terbukti dapat membantu para petani dalam meningkatkan produktivtas padi. Menristekdikti berharap, PAIR-BATAN terus berupaya melakukan kerja sinergis dengan berbagai lembaga agar hasil pengembangan teknologi radiasi dapat diaplikasikan di tengah masyarakat, entah itu di bidang pertanian dan pangan maupun kesehatan. (SUT)