JAKARTA Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) Republik Indonesia kembali melakukan kerja sama untuk meningkatkan kualitas pendidikan tinggi di ASEAN. Kali ini, bentuk kerja sama tersebut diwujudkan dalam 4th SHARE National Workshop On The Impact of Qualifications Framework and Regional Quality Assurance Standards on Indonesian Higher Education yang diselenggarakan mulai pagi tadi (6/2) di Ballroom InterContinental Hotel Jakarta. 

SHARE merupakan sebuah platform yang dibentuk oleh Uni Eropa yang bertujuan untuk mengharmonisasikan pendidikan tinggi di ASEAN. Dalam hal ini, SHARE menyasar kualitas dan mobilitas pendidikan tinggi serta mahasiswa lulusan pendidikan tinggi yang nantinya akan menjadi penggerak utama bisnis dan ekonomi dalam menghadapi kompetisi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Untuk itulah dalam workshop yang diselenggarakan selama 3 hari ini seluruh peserta saling bertukar pikiran dan melakukan diskusi sebagai upaya meningkatkan Kerangka Kerja Kualifikasi (Qualifications Frameworks/QFs) dan Penjaminan Mutu (Quality Assurance/QA) di ranah pendidikan tinggi.

Membuka kegiatan tersebut, Direktur Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa) Intan Ahmad menyampaikan bahwa fokus utama dari SHARE adalah pada capaian pembelajaran di Pendidikan Tinggi, sebagai elemen utama dalam kerangka kerja kualifikasi.

“Hal yang masih sangat perlu ditingkatkan di Pendidikan Tinggi di Indonesia dan ASEAN pada umumnya adalah budaya mutu. Peningkatan mutu pendidikan tinggi tidak hanya dilihat dari akreditasi saja, namun juga dari capaian pembelajaran, dimana lulusan yang dihasilkan harus memenuhi kebutuhan pasar kerja,” lanjutnya.

Kegiatan workshop ini akan dibuka dengan perkenalan mengenai SHARE dan program-programnya oleh Ketua SHARE, dan dilanjutkan dengan beberapa sesi diskusi. Sesi pertama akan membahas kerangka kerja Pendidikan Tinggi di ASEAN serta kerangka kerja dan sistem penjaminan mutu di ASEAN dan Indonesia, dan dilanjutkan dengan sesi pembahasan mengenai harmonisasi standar nasional dan regional dalam penjaminan mutu. Pada hari kedua, sesi diskusi kembali dilakukan dengan membahas kerangka kerja kualifikasi dalam sistem penjaminan mutu dan kaitannya serta kerangka kerja kualifikasi dari sudut pandang pengguna dengan mempertimbangkan kebutuhan industri serta dampak potensial dari rancangan kurikulum di pendidikan tinggi. Sesi dilanjutkan dengan diskusi panel mengenai standar kebutuhan masyarakat dengan mengkaitkan capaian pembelajaran dan tingkat referensi, hingga diskusi mengenai kerangka kerja regional dan perlunya kerja sama serta kepercayaan dalam negara-negara ASEAN. Workshop ditutup dengan pelatihan mengenai penggunaan capaian pembelajaran dalam pendidikan tinggi. (DRT/Belmawa)