Ibarat dalam suatu rumah tangga dengan pengahasilan yang terbatas, seorang ibu rumah tangga harus pandai pandai memutar pikiran dan menggunakan akalnya agar penghasilan yang terbatas tersebut dapat dimanfaatkan seefisien mungkin agar kelangsungan kehidupan rumah tangga tersebut dapat langgeng.  Demikian juga dengan dunia penelitian di Indonesia yang  dana nya sangat terbatas.  Keluhan peneliti tentang keterbatasan dana penelitian ini dapat dimengerti, walaupun pada kenyataannya jika dibandingkan dengan pendanaan penelitian pada 20 tahun yang silam kenaikkannya cukup spektakuler.  Hal ini paling tidak mencerminkan keberpihakan dan perhatian pemerintah  pada dunia penelitian. Sayangnya dana ini masih tersebar di berbagai kementerian dan lembaga penelitian.

 

Keterbatasan dana penelitian bukanlah hal satu satunya yang menyebabkan Indonesia masih belum dapat berperan secara signifikan dalam pengembangan IPEKS di tingkat internasional. Sebenarnya  dana yang terbatas kalau digunakan secara efektff dan efisien akan memberikan dampak yang signifikan.  Tidak adanya blueprint dan roadmap penelitian nasional untuk bidang khas Indonesia dan bidang  tertentu yang berdampak pada kepentingan nasional sangat berperan dalam terjadinya  inefisiensi penggunanaan dana penelitan dan belum berperannya peneliti Indonesia di tingkat internasional.  Terjadinya overlap dan recycle topic topic penelitian  menyebabkan inefisiensi penelitian yang tambah parah.

 

Dalam era pemerintahan yang lalu memang pernah dicoba untuk “mengatur” luang lingkup penelitian lembaga lemabaga penelitian termasuk perguruan tinggi.  Pada saat itu itu ada lembaga penelitian yang ruang lingkupnya dibatasi pada penelitian dasar dan ada lembaga penelitian yang menggarap penelitian terapan dan ada pula yang boleh menggarap  penelitian dasar dan penelitian terapan.  Konsep pembagian ruang lingkup ini merupakan salah satu upaya meningkatkan efisiensi dana penelitian yang terbatas.  Disamping pembagian wewenang ini, Konsep konsorsium penelitian untuk menggarap topic penelitian tertentu  juga merupakan upaya peningkaan efisiensi dan pengembangan jejaring penelitian.

 

Seiring dengan berjalannya waktu, pada kenyataannya akibat tuntutan output penelitian yang lebih diprioritaskan,  konsep yang sangat baik ini sudah mulai luntur.   Secara beramai ramai lembaga penelitian menggarap di wilayah hilir yang outputnya  lebih nyata.  Para peneliti seolah berlomba melakukan penelitian instan yang hasilnya dapat segera dirasakan.  Akibatnya terjadi ketidak seimbangan antara porsi  penelitian dasar dan penelitian terapan dan  inefisiensi penggunaan dana penelitian menjadi semakin parah.  Topik penelitian yang sama digarap oleh berbagai lembaga penelitian dengan hasil yang hampir sama pula.  Sebagai contoh ada satu lembaga penelitan yang mengklaim menemukan hasil penelitian tertentu yang di blow up di media massa seolah olah hasilnya  merupakan sesuatu yang baru ditemukan, padahal 15 tahun yang lalu kelompok penelitian lain di lembaga lain sudah menemukannya walaupun dengan metode yang lebih sederhana.   Tentunya kejadian tersebut bukan satu satunya dan dapat kita bayangkan berapa banyak dana penelitian yang terbuang dengan percuma karena adanya duplikasi penelitian  sebagai akibat dari tidak adanya informasi penelitian  secara nasional yang dapat diakses oleh semua peneliti dan penyandang dana sehingga duplikasi penelitian tersebut dapat dihindari.

 

Ketidakefisienan pemanfaatan dana penelitian ini  terjadi akibat tidak adanya data base penelitian secara nasional yang berisi blueprint dan road map penelitian secara nasional,  state of the arts penelitian  serta   topic topic penelitian   apa saja yang pernah dikerjakan termasuk hasil nya.  Masing masing lembaga penelitian termasuk perguruan tinggi membuat road map dan prioritas penelitian masing masing tanpa adanya benang merah yang menghubungkan ide ide yang cemerlang ini.  Akibat belum adanya system informasi penelitian di masing masing lembaga yang terhubung secara nasional, maka tidak heran banyak peneliti seolah hidup dan asyik dengan dunianya masing masing tanpa mengetahui apa yang sedang dikerjakan oleh koleganya peneliti lain.

 

Secara khusus niat baik pemerintah yang mengalokasikan dana penelitian sebesar 30% dari BOPTN perlu dicermati dan digunakan secara bijak.  Kultur bagi bagi dana penelitian untuk pemerataan sudah bukan eranya lagi.  Perguruan tinggi penerima dana ini harus sudah mulai menggunakannya secara efisien sesuai dengan keunggulannya masing masing.  Rencana Induk Penelitian (RIP) dan system informasi penelitian bagi perguruan tinggi yang sudah memilikinya dapat dapat diangkat secara nasional sebagai cikal bakan pembangunan sistem peneltian nasional

 

Dalam situasi keterbatasan dana penelitian mau tidak mau harus dibangun suatu system penelitian di tingkat nasional termasuk didalamnya terdapat blueprint dan  roadmap penelitian nasional dan system informasi penelitian.  Dengan adanya system ini diharapkan di tingkat nasional akan tergambar potret  mozaik penelitian nasional.  Dengan melihat kondisi terkini penelitian nasional maka akan terlihat relung relung penelitian mana yang harus menjadi prioritas dan ditugaskan digarap oleh lembaga peneltian atau perguruan tinggi mana. Sistem pengalokasian dana harus dibuat secara nasional berdasarkan potret ini agar dana penelitian dapat digunakan lebih  efisien.  Dengan adanya system ini pengulangan topic penelitian dan recycle penelitian oleh para peneliti paling tidak dapat dikurangi dan hasil penelitiannya lebih bermanfaat.   Hasil dari efisiensi  pemanfaatan dana penelitian ini dapat dialokasikan oleh pemerintah untuk peremajaan peralatan penelitian yang umumnya  sudah out of date  yang merupakan persyaratan mutlak apabila peniliti Indonesia akan bersaing di  tingkat internasioal.

 

Cikal bakal yang mendukung terbentuknya system penelitian nasional ini sebenarnya sudah ada.  Secagai contoh Kementrian Riset dan Teknologi  sudah secara rutin mengundang berbagai lembaga penelitian termasuk perguruan tinggi untuk mendiskusiskan topic topic penelitian yang dapat digarap secara bersama lintas unit kerja.  Kementiran pendidikan dan kebudayaan telah pula melontarkan kosep  desentralisasi penelitian, MP3EI dan berbagai konsep lainnya.

 

Membuat system penelitian nasional tidaklah mudah, akan tetapi ide  harus sudah dimulai digarap dan direalisasikan secara bertahap mengingat potensi dan niat ke arah itu sudah ada di masing masing lembaga penelitian dan unit kerja.  Dengan menghilangkan ego kelembagaan dan ego sektoral, dana penelitian yang semakin terbatas ini diharapkan akan dapat digunakan secara lebih efisien dan menghasilkan sesuatu yang dapat  memecahkan permasalahan bangsa dan meningkatkat harkat bangsa di tingkat internasional. Tentunya diperlukan seorang pimpinan orchestra yang handal agar symphony yang dihasilkan terdengar merdu.

____________________________________________


Penulis:

Prof. Ronny Rachman Noor, Ir, MRur.Sc, PhD

Wakil Kepala LPPM bidang Penelitian

Institut Pertanian Bogor