Scaling atau perawatan pembersihan gigi dari plak, pewarnaan, maupun karang gigi menjadi salah satu perawatan gigi yang sering dilakukan oleh pasien ketika berkunjung ke dokter gigi. Namun, banyak orang yang tidak menyadari bahwa scaling gigi justru dapat mengakibatkan kerusakan pada permukaan gigi. Masalah ini mendorong lima mahasiswa UGM untuk membuat inovasi tip scaler untuk perawatan scaling yang diberi nama SCATIN.

Maria Febritania Wahyuni Huri, Eltrin Khotimah Maharti, Hamzah Sukma Anggoro, dan Larissa Sambudi dari Fakultas Kedokteran Gigi serta Adalatul Laksmi Fisuki dari Fakultas Farmasi melakukan penelitian inovasi tip scaler ini di bawah bimbingan Dr. drg, Archadian Nuryanti, M.Kes. Melalui penelitian ini mereka berupaya untuk mencari pengganti tip scaler berbahan logam karena strukturnya yang keras dapat menimbulkan kerusakan gigi.

“Kami mencoba untuk menggali bahan-bahan yang relatif kuat dengan struktur yang lebih lunak dari gigi sehingga dapat tetap menyalurkan getaran ultrasonik dari mesin scaler namun tidak merusak permukaan gigi. Akhirnya kami menemukan bahan tersebut, yaitu kitosan,” tutur Laksmi, Selasa (4/7).

Kitosan sendiri, lanjutnya, merupakan bahan yang biokompatibel, tidak toksik, dan dapat dijadikan film atau lapisan selain juga kuat dan antimikroba sehingga dapat sekaligus mencegah infeksi selama scaling. Kitosan yang mereka gunakan merupakan kitosan dari kulit udang yang selama ini kurang dimanfaatkan sehingga cenderung menjadi limbah yang menimbulkan pencemaran.

Dengan pengolahan lebih lanjut, para mahasiswa ini berhasil menjadikan kitosan limbah kulit udang tersebut sebagai disposable tip scaler yang  tidak merusak permukaan gigi,antimikroba dan aman.

Lebih lanjut Laksmi menjelaskan, produk mereka memiliki keunggulan three in one. Selain tidak merusak permukaan gigi karena terbuat dari bahan yang lebih lunak dan biokompatibel di rongga mulut yaitu resin akrilik yang diberi salut kitosan, SCATIN juga memiliki salut kitosan di permukaannya yang bersifat antimikroba sehingga sekaligus mengurangi prevalensi infeksi saat scaling gigi.

Tidak hanya itu, keunggulan lain dari inovasi mahasiswa ini adalah penggunaannya yang lebih aman karena bersifat disposable atau sekali pakai sehingga dapat menghindari terjadinya penularan penyakit antarpasien dari tip scaler yang biasanya dipakai berulang kali dari satu pasien ke pasien lain.

Walaupun dilakukan proses sterilisasi sebelumnya, namun jika proses sterilisasi kurang baik, atau karena keterbatasan alat untuk sterilisasi di daerah pelosok misalnya, tip scaler semacam ini dapat menjadi sumber penyebaran penyakit dari satu pasien ke pasien lain, yang dampaknya dapat sangat fatal,” imbuhnya.

Hasil penelitian in vitro yang mereka lakukan membuktikan bahwa SCATIN mampu meminimalisir kerusakan permukaan gigi pasca scaling, antimikroba, serta dapat membersihkan gigi dengan optimal. Dalam waktu mendatang, kelima mahasiswa ini akan melakukan proses penelitian lanjutan scara in vivo agar produk mereka dapat dikembangkan atau diproduksi secara massal.

“Kami berpikir untuk mengembangkan desain produk hasil penelitian kami, karena tip scaler hasil penelitian kami agak lebih tebal dari scaler biasanya, sehingga kami ingin mengembangkan desainnya agar lebih menyamai  tip scaler logam sehingga lebih kompatibel lagi untuk membersihkan area gigi yang sulit terjangkau,” pungkas Laksmi. (Humas UGM/Gloria)