Jombok – Saat ini industri farmasi Indonesia masih sangat tergantung pada bahan baku impor, hampir 95% Bahan Baku Obat (BBO) yang diperlukan masih harus diimpor. Salah satu bahan yang masih diimpor adalah garam farmasi.

Dalam industri farmasi, garam farmasi merupakan bahan baku yang banyak digunakan antara lain sebagai bahan baku sediaan infus, produksi tablet, pelarut vaksin, sirup, oralit, cairan pencuci darah, minuman kesehatan dan lain-lain.

_mg_2728-2-kcl

Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, Mohamad Nasir melakukan kunjungan ke Pabrik PT. Kimia Farma (Persero) Tbk. Plant Watudakon untuk melihat secara langsung pabrik garam farmasi yang berkerja sama dengan tim garam farmasi BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi) di Jombok, Kesamben, Jawa Timur pada Jumat, (28/10).

Nasir mengatakan bahwa daya saing Indonesia dengan Negara-negara lain harus di tingkatkan, dirinya mendorong para perekayasa dan peneliti di Indonesia untuk bisa menghasilkan inovasi baru. Banyak inovasi yang ada di Indonesia tetapi tidak banyak juga yang bisa dimanfaatkan oleh para industri.

“Saya ingin mendorong para inventor untuk menciptakan inovasi-inovasi baru agar menarik para industri untuk memanfaatkan inovasi yang dihasilkan anak bangsa contohnya adalah tim garam farmasi dari BPPT yang dimanfaatkan oleh PT. Kimia Farma sebagai salah satu perusahaan farmasi terbesar di Indonesia,” ujarnya.

_mg_2817-2-kcl

Nasir berharap dengan kerja sama yang baik dengan industri, Indonesia bisa mengurangi import bahan baku obat yang sampai saat ini, Jerman dan Australia masih menjadi pengekspor terbanyak bahan baku obat ke Indonesia.

“Sumber daya alam kita luas, garam kita banyak, lahan kita juga luas, kita mestinya bisa menghasilkan bahan baku obat sendiri dan tidak perlu lagi import dari Negara luar, ini harus kita dukung bersama mulai dari para inventor sampai ke industri,” tegasnya.

Kepala BPPT, Unggul Priyanto mengatakan tahun 2015 impor garam farmasi mencapai 100 persen. Dengan adanya inovasi ini bisa menggantikan impor, sekarang, 30 persen produksi garam farmasi bisa dihasilkan di dalam negeri.

“Perlu dicatat garam farmasi ini adalah bahan baku obat pertama di Indonesia yang sesuai syarat BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan),” imbuhnya.

_mg_3002-2-kcl

Direktur Operasi dan Supply Chain PT. Kimia Farma Plant Watudakon, Jisman Siagian menjelaskan saat ini kebutuhan garam farmasi Indonesia mencapai 6000 Ton per bulan berdasarkan data PT Garam. Sementara pengembangan garam farmasi yang dilakukan Kimia Farma, saat ini baru bisa memenuhi sepertiga dari kebutuhan.

“Untuk memenuhi kebutuhan garam farmasi kita akan melakukan pembangunan tahap kedua. Dengan standart pabrik sesuai GMP Bahan baku (CPBBAOB), sehingga kualitas Garam Farmasi yang dihasilkan memenuhi persyaratan yang ditetapkan, terutama sesuai syarat yang diminta konsumen. Kualitas harus tinggi karena kita kan harus bersaing dengan produk import,” katanya. (ard)

_mg_2856-kcl