Jakarta – Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) melalui Direktorat Jenderal Penguatan Inovasi mengadakan diskusi bersama Bengt-Åke Lundvall, profesor dari Universitas Aalborg Denmark yang merupakan penggagas serta pencetus konsep Sistem Inovasi Nasional (SINas). Ilmuwan yang banyak melakukan penelitian terkait sistem inovasi dan ekonomi pembelajaran ini, merupakan pendiri The Global Network for Economics of Learning, Innovation and Competence Building Systems (Globelics), sebuah komunitas ilmuwan dari seluruh dunia yang bekerja membangun inovasi dan kompetensi dalam konteks pembangunan ekonomi. Pada era 1980-an, Lundvall mengembangkan ide inovasi sebagai proses interaktif dan konsep SINas, sementara di era 1990-an, ia mengembangkan gagasan ekonomi pembelajaran.

Diskusi bertema ‘Pengembangan Kapasitas Inovasi dengan Lesson Learned (Drivers and Barriers) di Berbagai Negara’ ini berlangsung di Bandung pada Kamis (13/10). Diskusi ini menjadi salah satu bagian dari The 14th Globelics International Conference, dimana dalam konferensi internasional tersebut, Lundvall bertindak sebagai ketua konferensi. Selain bertujuan untuk mempromosikan penelitian, inovasi dan pengembangan, konferensi ini juga mencoba menawarkan bagaimana keilmuan yang bergantung pada pengetahuan diubah menjadi praktik. Hadir dalam konferensi ini, 147 akademisi dari 40 negara yang memaparkan presentasi dengan tema ‘Inovasi, Kreativitas, Pengembangan: Strategi untuk Keinklusifan dan Keberlanjutan’.

“Inovasi harus ada bisnis modelnya, dan tidak sekadar publikasi saja. Jadi, jangan terlalu mengharapkan pada besarnya institusi pendidikan tinggi, tapi fokus kita untuk mengarahkan pada pembangunan ekonomi di sektor pangan, yang kemudian didukung oleh proses inovasi. Misalnya, sektor pertanian menjadi lebih maju dan menjadi pendukung bagi produksi nasional Indonesia,” demikian dinyatakan Lundvall dalam paparannya, sembari menambahkan bahwa saat ini sektor pertanian di Indonesia, prosesnya masih dilakukan secara konvensional.

Sementara itu, Direktur Jenderal Penguatan Inovasi Kemenristekdikti, Jumain Appe, pada kesempatan yang sama mengatakan bahwa hasil dari diskusi ini akan bermanfaat bagi peserta dalam menentukan berbagai kebijakan yang mendukung program prioritas  riset dan inovasi. “Hasil yang didapat dari round table discussion dengan Prof. Lundvall tersebut akan dimasukkan bagi kebijakan ekonomi dari masing-masing negara. Korea Selatan misalnya, dalam pengembangan riset sejalan dengan apa dibutuhkan oleh industri.” ujarnya.

Jumain juga mengatakan bahwa di Indonesia, agar inovasi menghasilkan dampak yang nyata bagi perubahan, diperlukan reformasi tata kelola sains, riset dan inovasi, serta kolaborasi yang kuat di antara pemangku kepentingan. Namun ia menyayangkan, tidak ada kesinambungan antara industri dan institusi pendidikan dalam melakukan penelitian dan pengembangan berdasarkan apa yang diperlukan masyarakat. Menurutnya, secara khusus perlu didorong evidence-based policy, agar kebijakan yang diambil didasarkan pada data yang disusun melalui riset. (PSP)