Tangerang Selatan – Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) melalui Direktorat Jenderal Penguatan Inovasi, menekankan pentingnya penguatan manajemen inovasi untuk menjembatani hasil inovasi perguruan tinggi dengan industri, agar terjadi komersialisasi hasil riset yang bermanfaat secara ekonomi dan sosial. Hal ini disampaikan oleh Jumain Appe, Direktur Jenderal Penguatan Inovasi Kemenristekdikti usai membuka Workshop Manajemen Inovasi (WMI) bertema ‘Strategi Penguatan Manajemen Inovasi di Perguruan Tinggi’ di Serpong, Tangerang Selatan (20/9).

Menurut Jumain, untuk mendukung penguatan manajemen inovasi, Kemenristekdikti bekerjasama dengan perguruan tinggi, dalam mengembangkan produk, uji coba produk, uji coba pasar, hingga peluncuran produk kepada industri. “Karena itu, perguruan tinggi dan industri tidak boleh jalan sendiri-sendiri. Kolaborasi mesti dibangun untuk mendorong hilirisasi dan komersialisasi produk-produk iptek” tegasnya.

Jumain juga menjelaskan bahwa penguatan inovasi perlu didukung melalui aplikasi tiga platform, yakni regulating (kebijakan sektoral), executing (pendanaan inovasi) dan empowering (mediasi dan  desiminasi). “Untuk empowering  diperlukan pengembangan technology transfer office (TTO) dan regionalisasi inovasi di perguruan tinggi. Untuk membangun hubungan yang harmonis antara industri dan dunia riset, diperlukan mediasi kedua pihak agar terbangun kelembagaan manajemen inovasi,” imbuhnya. Jumain mencontohkan, ada beberapa produk inovasi dari perguruan tinggi yang sedang disiapkan untuk industri. Produk-produk itu kini diuji oleh para ahli untuk keperluan standardisasi, seperti inovasi sepeda motor listrik karya Institut Teknologi Sepuluh November – Surabaya, yang rencananya akan diproduksi oleh PT. Garansindo dengan nama Garansindo Electric Scooter ITS atau disingkat ‘Gesits’.

“Gesits akan mulai memproduksi sepeda motor listrik pada 2018, dan Gesits telah dipesan sebanyak 20 ribu unit,” sambungnya. Adapun bidang-bidang hasil inovasi lainnya yang saat ini telah dikembangkan antara lain bidang pertanian dan pangan. Sementara di bidang industri kesehatan, Universitas Brawijaya juga telah mengembangkan alat diagnosis penyakit diabetes, sehingga kedepannya Indonesia diharapkan tidak perlu melakukan impor.

Lebih jauh, Jumain menerangkan bahwa pihaknya terus mendorong peningkatan budaya riset dan pengembangan para dosen untuk memenuhi Tridharma Perguruan Tinggi, serta peningkatan kolaborasi antara perguruan tinggi, lembaga litbang dan industri, guna mempercepat hilirisasi hasil karya para dosen. Hal ini didasari keyakinan bahwa perguruan tinggi memiliki SDM yang terus tumbuh silih berganti, sehingga dapat menjadi sumber lahirnya ide-ide yang inovatif. Untuk itu kedepannya, lembaga litbang di perguruan tinggi dapat memperluas perannya menjadi TTO yang berfungsi sebagai mediator dalam membangun interaksi antara para peneliti dengan industri, memfasilitasi pengelolaan HKI, membantu penyusunan bisnis model hasil riset dan pengembangan, membantu proses lisensi dan alih teknologi, serta melakukan negosiasi dengan industri dalam proses hilirisasi hasil-hasil riset dan pengembangan, sehingga pada akhirnya TTO ini diharapkan tidak lagi bersifat cost center, melainkan menjadi salah satu unit profit center di perguruan tinggi. (PSP)