Jakarta – Sebagai bentuk dukungan terhadap kemandirian pengolahan mineral di dalam negeri, Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) melalui Direktorat Jenderal Penguatan Inovasi memberikan skema pembiayaan insentif inovasi yang diterapkan di industri. Hal ini disampaikan oleh Hanief Arief, Kepala Subdirektorat Industri Bahan Baku dan Material Maju Kemenristekdikti dalam Focus Group Discussion (FGD) Roadmap Produk Inovasi Riset Bahan Baku, yang diselenggarakan oleh Kemenristekdikti bekerjasama dengan Lembaga Teknologi Fakultas Teknik Universitas Indonesia (LEMTEK FTUI) di Engineering Center FTUI, Depok pada Kamis (6/10). Hadir dalam kegiatan ini, wakil dari Kementerian Perindustrian, anggota Dewan Riset Nasional (DRN), peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesai (LIPI), pelaku usaha yang tergabung dalam Asosiasi Perusahaan Industri Pengolahan dan Pemurnian Indonesia (AP3I), para inovator smelter Institut Teknologi Sepuluh Novermber (ITS), Universitas Indonesia (UI) dan Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batu Bara (Tekmira) Kementerian ESDM, serta reviewer insentif inovasi industri.

Meski tidak seluruhnya, beberapa inovasi industri yang tengah mendapatkan skema pembiayaan insentif inovasi dari Direktorat Inovasi Industri, Ditjen Penguatan Inovasi Kemenristekdikti, antara lain smelter mini blast furnace yang telah berhasil dibuat oleh Pusat Penelitian Metalurgi dan Material LIPI, smelter hot blast cupola buatan Balai Penelitian Teknologi Mineral (BPTM) LIPI dimana saat ini sedang dalam proses pengujian, smelter blast furnace kapasitas 10 ton ore yang dibangun oleh ITS, yang mana saat ini ITS tengah mencari partner industri untuk uji produksi secara kontinyu. Ada pula UI yang tengah menyelesaikan smelter submerged furnace pada level TRL 7, dan Tekmira Kementerian ESDM yang telah mendapatkan partner industri untuk menguji rotary kiln guna uji produksi sponge iron.

Dari pertemuan ini, diketahui juga bahwa saat ini Pusat Penelitian Metalurgi dan Material LIPI tengah berinovasi membuat baja berkekuatan sangat tinggi atau high strength steel dari material tambang berkadar nikel sangat rendah, dimana sumber daya alam ini sangat berlimpah jumlahnya di Indonesia. Menanggapi hal ini, Ketua Komisi Teknis Material Maju DRN, Utama Padmadinata menyatakan bahwa inovasi LIPI dalam membuat baja berkekuatan sangat tinggi ini, merupakan terobosan yang berpotensi mengangkat perekonomian Indonesia secara signifikan.

Sementara itu pada kesempatan yang sama, mewakili Kementerian Perindustrian, Andi Rizaldi, menyambut baik upaya yang dilakukan Kemenristekdikti dalam mendorong lembaga litbang dan perguruan tinggi untuk menampilkan produk teknologi karya bangsa sendiri. Lebih lanjut, reviewer insentif inovasi industri, Idwan Suhardi, menekankan pentingnya Kemenristekdikti, Kementerian Perindustrian, Kementerian ESDM, dan Kementerian BUMN untuk duduk bersama, guna menghasilkan regulasi-regulasi yang memberikan ruang lebih luas bagi para inovator dalam negeri untuk melahirkan berbagai produk teknologi yang berkualitas dan efisien, khususnya yang berkaitan dengan teknologi pengolahan dari hulu ke hilir berbasis mineral logam.

Dalam FGD yang dilaksanakan dalam rangka penyusunan Roadmap Inovasi Direktorat Jenderal Penguatan Inovasi Kemenristekdikti ini, disinggung pula isu mengenai revisi PP Nomor 1 Tahun 2014 oleh Pemerintah, tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batu bara. Revisi yang menjadi perbincangan para peneliti, pelaku industri, birokrat, dan pendidik ini antara lain mengenai ekspor konsentrat yang kembali diizinkan hingga 3 sampai 5 tahun ke depan. Hal yang menjadi fokus kekhawatiran adalah dampak dari pemberian izin tersebut, yang disinyalir akan menurunkan semangat inovasi para teknolog Indonesia yang sedang giat-giatnya mengembangkan smelter atau mesin pengolah dan pemurnian mineral logam skala UKM, untuk mendukung para pemilik Ijin Usaha Pertambangan (IUP) kecil-menengah. (PSP)