Kesepakatan penundaan pemberlakuan Masyarakat Ekonomi Asia (MEA) oleh para pemimpin negara di Asia Tenggara sampai pada 2015 menjadi dentum untuk segera menata kekuatan pasar domestik. Sebuah langkah membangun kekuatan ekonomi kawasan yang jelas harus dimaksudkan untuk meningkatkan produk domestik Indonesia, bukan sekadar membuka lebar-lebar produk asing sedangkan kekuatan ekonomi dalam negeri hanya menjadi penonton sebagaimana telah diperingatkan melalui gempuran produk pertanian asing.

Liberalisasi perekonomian domestik pun pada dasarnya telah dikuatkan dengan gencarnya ritel asing yang masuk di Indonesia sehingga menjadikan kondisi pasar tradisional hidup segan mati tak mau. Di negeri ini, pengelolaan pasar tradisional tidak diarahkan menjadi lingkungan yang sehat karena seolah-olah dibuat asal ada dari tradisi ketergantungan masyarakat untuk mendapatkan barang kebutuhan. Maklum, jika kondisi kebanyakan pasar tradisional akhirnya menjadi kumuh, semrawut, penuh kriminalitas, dan tidak nyaman. Kenyataan kesemrawutan atas pasar tradisional demikian terbaca oleh para pemodal besar sehingga melancarkan serangan melalui pendirian ritel-ritel perbelanjaan modern.

Kesadaran pemerintah yang gagal mengantisipasi fenomena tentu harus diiringi dengan regulasi yang lebih ketat dan tegas tentang penataan dan pembinaan pasar tradisional, pusat perbelanjaan, dan toko modern. Kendati pemerintah telah mengambil kebijakan untuk melakukan modernisasi pasar tradisional dalam program stimulus ekonomi, namun kenyataannya tidak memberi jaminan terhadap pedagang kecil atas hak keberlangsungan pasar tradisional yang ada.

Pengalaman selama ini menunjukkan, pasar tradisional telah menjaga perekonomian sektor riil paling bawah negeri ini. Bahkan ketangguhan pelaku ekonomi mikro setidaknya telah menjadikan Indonesia memiliki daya tahan terhadap krisis yang sangat baik di banding negara-negara lain sehingga terhindar dari krisis ekonomi global yang telah terjadi pada 2008-2009 dan krisis global yang melanda Eropa saat ini. Konsumsi domestik dari APBN yang dibelanjakan di dalam negeri kembali, jelas menjadi kekuatan kendati nilai ekspor Indonesia mengalami penurunan.

Kendati muncul kesadaran tentang potensi pasar domestik yang melindungi ketahanan ekonomi nasional, tetapi pasar domestic yang diwakili adanya pasar tradisional tetap terpuruk dalam upaya bersaing dengan pasar modern. Memang mendesak untuk dilakukan perbaikan pada pasar-pasar tradisional yang seolah mati suri. Perbaikan itu dapat dari aspek desain bangunan, kelengkapan sarana dan prasarana, sampai pada prosedur pengelolaan pasar tradisional.

Pasar tradisional sebagai tempat transaksi tukar menukar barang dan jasa dengan tradisi kultural, selalu dipeyorasikan buruk. Sebagaimana tokoh psikologi lingkungan, Kurt Lewin dalam field theory menyatakan bahwa lingkungan fisik atau nonfisik menyumbang pembentukan kepribadian seseorang. Maka tidak mengherankan ketika kesemrawutan sistem di pasar tradisional berimplikasi kepada budaya negatif masyarakat di dalamnya.

Sebagai pemegang modal serta memahami pola manajemen sekaligus strategi marketing, pemilik pasar modern pada akahirnya mampu merebut pembeli dengan memadukan konsepsi marketing mix-nya Jerome Mc Carthy tentang product, price, place, dan promotion. Bahkan di tataran ideal, pleasant surprise (kejutan berhadiah) untuk membangun ikatan emosional pembeli sering diterapkan, seperti diskon untuk produk tertentu atau pemberian produk gratis bersyarat sehingga menarik pembeli.

Kenyataan atas kronisnya persaingan usaha di atas menjadi relevan setelah pasar tradisional yang telah menyediakan lapangan kerja cukup besar mengalami pertumbuhan minus 8 persen per tahun dibanding pasar modern yang tumbuh 31,4 persen. Inti permasalahannya karena terjadi prosedur pengelolaan yang tidak jelas serta ketidaktegasaan kebijakan pemerintah setempat melahirkan ijin usaha dan ijin bangunan atas pasar modern yang berdekatan dengan pasar tradisional.

Tentunya jawaban pembangunan infrastruktur terhadap pasar-pasar tradisional yang pernah dilakukan tidak cukup hanya dibangun, tetapi butuh hak untuk dirawat dengan desain pengelolaan yang baik. Hal ini untuk mengingatkan bahwa di tengah menggebu-gebunya pemerintah merevitalisasi bangunan pasar, perlu juga diimbangi adanya pelatihan manajemen pengelolaan pasar, penyusunan model pembangunan berkelanjutan dan pengelolaan pasar, sampai pada tera ukur ulang timbangan guna memberikan perlindungan (the right to safety) terhadap konsumen sebagai wujud menghargai pelaku supply dan demand dalam perekonomian.

Tidak dapat disangkal bahwa pasar tradisional sebagai ruang publik dan khasanah publik memiliki perbedaan dengan pasar modern, yaitu pandangan terhadap manusia lain dalam kaitannya dengan lingkungan sosialnya. Di dalam pasar tradisional masyarakat saling menghargai dan memiliki posisi yang sama untuk saling menerima perbedaan harga, kualitas barang, dan lainnya menuju kesepakatan bersama melalui mufakat dalam wujud tawar menawar penuh kekeluargaan. Model transaksi yang dilakukan juga menggunakan komunikasi lokal dengan simbol sosial seperti bahasa setempat, murah senyum, saling menyapa, terbuka, dan penuh keakraban. Dengan langkah-langkah pendekatan budaya, masyarakat pasar tradisional memiliki memorable experience yang sangat demokratis dan kedekatan emosional.

Jika kondisi persaingan pasar tradisional dan pasar modern asing tidak diantisipasi, bisa jadi dalam waktu terdekat Indonesia akan semakin besar kebanjiran produk asing. Posisi demikian akan semakin parah jika tidak didukung adanya pembenahan birokrasi, infrastruktur, pendidikan, budaya kerja, dan iklim investasi. Regulasi atau kebijakan mesti diperkuat untuk mengantisipasinya.

Maka kebijakan revitalisasi pasar dari paket stimulus ekonomi harus terus dikembangkan dalam strategi menyambut pemberlakuan MEA. Langkah demikian sekaligus menjadi tonggak awal untuk memperlakukan pedagang di pasar tradisional secara manusiawi dengan tidak sekadar  menyediakan lahan usaha yang layak, tetapi perlu diimbangi dengan prosedur pengelolaan dan manajemen yang terpadu. Ini perlu diingatkan sebelum terlambat, agar terwujud pasar dengan harga tradisional berkualitas modern atau agar pasar tradisional tetap memiliki kedaulatannya dalam liberalisasi perekonomian kawasan.

 ________________________________

Penulis:

Muh. Khamdan,

Peserta  Program Magister Agama dan Perdamaian,

Peneliti Paradigma Institute

dan fungsional Widyaiswara Kementerian Hukum dan HAM RI