Sebagai bentuk dukungan kepada para medis dalam menghadapi wabah virus Corona (Covid-19), Universitas Syiah Kuala melakukan inovasi dengan menciptakan pelindung wajah bagi para medis. (Banda Aceh, 8/4/2020).

Kepala Pusat Pengembangan dan Hilirisasi Inovasi Unsyiah Dr. Ir. M. Dirhamsyah, M.T mengatakan, alat pelindung wajah (Face Shield) merupakat alat pelindung diri yang sangat penting bagi para medis ketika berhadapan langsung dengan pasien. Apalagi jika pasien mengalami batuk atau bersin, yang kecepatannya bisa mencapai 10 meter/detik dan 50 meter/detik.

Namun kenyataannya, alat pelindung wajah ini sangat sulit didapatkan dan ketersediaannya semakin terbatas. Untuk itulah, Unsyiah melalui Fakultas Teknik yang melibatkan mahasiswa Jurusan Teknik Mesin dan Industri, mencoba  untuk melakukan inovasi dengan mendesain dan membuat alat pelindung wajah tersebut.

“Desain dengan CAD dilakukan untuk membuat model gambar 3-Dimensi, yang kemudian desain tersebut dimanufaktur dengan mesin 3D Printing. Tiga variasi kualitas Pelindung Wajah (PW) yang kita desain yaitu PW1 (Lower Grade), PW2 (Medium Grade) dan PW3 (High Grade),” ucap Dirhamsyah.

Semua desain tersebut awalnya hanya menggunakan dua mesin, lalu ditambah lagi satu mesin dari SMK 2. Hingga saat ini, Unsyiah dan mitra mampu melakukan produksi Pelindung Wajah dengan menggunakan tujuh mesin 3D Printing.

Dengan  ketersedian kapasitas mesin dan desain produk inovatif yang tersebut, akhirnya para mahasiswa berhasil memproduksi hingga mencapai 200 unit perhari. Hingga hari ini Unsyiah telah melakukan produksi secara bertahap dan telah menghasilkan 500 unit dan sejumlah telah disumbangkan ke RSUDZA, RS Prince Nayef, RS Sigli, dan para medis. Kapasitas produksi terus dapat ditingkatkan sesuai dengan keperluan untuk membantu para medis yang berfungsi sebagai garda terdepan penanggulangan COVID-19.

”Semoga inovasi teknologi, kebersamaan dan keikhlasan dalam gotong-royong ini, para perekayasa terus dapat memberikan kontribusi dalam menghadapi Kejadian Luar Biasa (KLB) COVID-19 ini,” ucapnya.

Dirhamyah mengakui, semangat kebersaman untuk bersama-sama membentu para medis sangat terasa dalam kegiatan ini. Dimana pada tahapan awal, tim menghadapi banyak kendala dalam melakukan verifikasi desain produk yang mencerminkan bentuk yang menarik, milenial dan memberikan kenyamanan dalam memakai. Sehingga akhirnya produk ini dapat digunakan oleh para medis.

Namun, semangat dan tekad pantang menyerah yang ditunjukan oleh mahasiswa, menyebabkan banyak pihak tertarik untuk ikut serta bersama-sama membantu percepatyan produk inovatif ini. Bahkan pihak Dharma Wanita Unsyiah turut memberikan peran penting sehingga mahasiswa mendapatkan semangat prima, cukup gizi dan energi.

”Inilah kenikmatan melakukan sesuatu yang inovatif dengan kebersamaan dan keikhlasan, yang mewujudkan keterpaduan dalam semangat gotong-royong membela para medis,” ucapnya.

Begitu pula dukungan dari Pimpinan Universitas, seperti Rektor Prof. Dr. Ir. Samsul Rizal, M.Eng, IPU, Ketua Satgas COVID-19 Prof. Dr. Ir. Marwan, dan Ketua LPPM Prof. Dr. Taufik Fuadi Abidin, S.SI, M.Tech, yang langsung turun ke lapangan.

”Mereka  turut melakukan validasi produk dan sebagai penentu keberhasilan dalam mengembangkan inovasi teknologi desain dan manufaktur pelindung wajah ini,” ucapnya.

Untuk itulah, Dirhamsyah merasa sangat bersyukur karena inovasi teknologi kesiapsiagaan APD ini telah mendapat banyak dukungan, khususnya dari Dekan Fakultas Teknik Unsyiah beserta jajarannya yang telah memberikan fasilitas pelaksanaan kegiatan di Laboratorium Desain dan Manufaktur.

”Kita berharap dengan semangat kebersamaan seperti ini, semakin memotivasi civitas akademika Unsyiah untuk terus berinovasi dan berkarya, khususnya di masa-masa pandemi saat ini,” pungkasnya.