Tiga Mahasiswa Unila Raih Perunggu AISEEF

(Unila): Tiga mahahasiswa Universitas Lampung (Unila) berhasil meraih medali perunggu pada ajang kompetisi karya ilmiah Asean Innovative Science, Environmental and Entrepreneur Fair (AISEEF) tahun 2021 yang diselenggarakan Indonesian Young Scientist Association (IYSA), 18–22 Februari 2021 di Jakarta.

Mereka antara lain Khoirunnisa Ama Rina, Yosi Nadia, dan Wulan Ayu Lestari dari Program Studi Sejarah FKIP dan Jurusan Kehutanan Fakultas Pertanian Unila. Mereka didampingi Sumargono S.Pd., M.Pd., Dosen Prodi Pendidikan Sejarah FKIP Unila, selaku pembimbing.

Ketiga mahasiswa tersebut memeroleh medali perunggu untuk kategori Social Science melalui karya ilmiah berjudul “Forest Disaster Reduction Based on Local Wisdom of Traditional Forest Management” atau Mitigasi Bencana Karhutla Berbasis Kearifan Lokal Pengelolaan Hutan Adat.

Sumargono menceritakan, karya ilmiah ini merupakan hasil penelitian para mahasiswanya yang telah dibuat sebelumnya. Dengan dukungan berbagai pihak khususnya tim BP2M Unila, hasil penelitian ini kemudian dimodifikasi sehingga data-data yang tersaji lebih lengkap dan siap dikompetisikan pada ajang AISEEF 2021.

Karya ilmiah ini mengangkat tentang bagaimana kearifan lokal masyarakat Ulun Saibatin yang ada di Kabupaten Lampung Barat menjaga sekaligus melindungi hutannya dari bencana kebakaran yang setiap tahunnya terjadi di Pulau Sumatra.

Dalam kurun waktu 5–10 tahun, beberapa daerah di Pulau Sumatra sering mengalami kebakaran hutan dan lahan. Namun di Kabupaten Lampung Barat, hutannya justru masih terjaga dari bencana karhutla (kebakaran hutan dan lahan).

Hal inilah yang kemudian diteliti Khoirunnisa, Yosi, dan Wulan dengan melakukan riset secara langsung dan mencari data melalui wawancara selama dua minggu.

Baca Juga :  GAMBAR TANGAN DI GUA PRASEJARAH: SIMBOL KELOMPOK DAN PENOLAK BALA

Hasilnya, ditemukan bahwa bagi masyarakat Lampung barat khususnya masyarakat Ulun Saibatin, hutan merupakan sumber kehidupan.

Oleh karena itu masyarakat tersebut melakukan mitigasi dengan cara menerapkan nilai-nilai kearifan lokal yaitu dengan menanam tanaman pohon durian, alpukat, petai yang buahnya dapat dikonsumsi dan pohonnya dapat berfungsi sebagai pelindung hutan.

Tak hanya itu, masyarakat juga mendapat dukungan pemerintah setempat melalui peraturan daerah dan peraturan adat tentang larangan merusak hutan dengan alasan apapun.

Sistem pewarisan hutan adat juga dilakukan sebagai salah satu mitigasi bencana karhutla. Sistem ini diwariskan pada garis keturunan masyarakat Ulun Saibatin berdasarkan garis keturunan ayah atau patrilineal. Dengan begitu eksistensi hutan di Lampung Barat dapat terjaga secara turun temurun.

“Dan juga beberapa petuah-petuah dari adatnya yang disampaikan pada keturunannya. Di situ kami melihat ada beberapa aspek yang bisa diambil sebagai edukasi untuk generasi berikutnya dalam hal pelestarian sehingga tidak ada kebakaran hutan di Lampung Barat,” katanya.

Khoirunnisa, salah satu mahasiswa yang ikut pada kompetisi ini menjelaskan, penelitian lapangan tentang mitigasi bencana karhutla di Lampung Barat sebenarnya telah dilakukan sebelum pandemi muncul. Hasil penelitian lapangan tersebut dilengkapi dengan materi-materi yang berasal dari beberapa jurnal dan buku.

Persiapan mengikuti kompetisi dilakukan semaksimal mungkin, termasuk bagaimana menjaga komunikasi antaranggota yang masih terpisah akibat pandemi Covid-19 dan mempersiapkan materi perlombaan ke dalam bahasa Inggris. Kendati demikian, semua proses dapat dilalui dengan baik karena dukungan berbagai pihak.

Baca Juga :  Cegah Covid-19, Ini Cara Kendalikan Stres Secara Positif Menurut Dr Dwi Hastuti

AISEEF 2021

AISEEF 2021 dibuka secara resmi pada 17 Februari 2021, melalui Zoom. Pada beberapa hari berikutnya, para peserta yang berjumlah 450 orang dari 20 negara mengikuti sesi penilaian (judging session).

Pada sesi ini dilakukan tanya jawab antara tim dengan dewan juri melalui Zoom. Hari terakhir penyelenggaraan AISEEF ditutup dengan penutupan secara resmi dan pengumuman pemenang.

Untuk mengikuti kompetisi AISEEF 2021 para peserta diharuskan melakukan pendaftaran secara online. Kemudian setelah itu peserta diwajibkan mengunggah karya ilmiah dalam bentuk paper/jurnal, poster, dan video presentasi melalui website yang ditentukan.

Mahasiswa angkatan 2017 ini berharap, prestasi yang ia raih dapat memotivasi mahasiswa lain untuk berani mencoba dan antusias mengikuti perlombaan baik ajang nasional maupun internasional.

Sumargono juga menambahkan, pemberian penghargaan bagi mahasiswa berprestasi di bidang karya ilmiah baik tingkat nasional seperti pimnas, maupun internasional, dapat segera terlaksana agar mahasiswa Unila semakin semangat berkarya dan Unila dapat mencetak lulusan berkualitas.

Dirinya berpesan, mahasiswa bisa lebih percaya diri mengikuti kompetisi-kompetisi sejenis. Ia yakin, selama ada kemauan dan usaha mahasiswa Unila dapat berkompetisi dengan baik.

“Untuk pembelajaran pada adik-adik tingkatnya, kalau mau berusaha, apapun sebenarnya bisa dilakukan,” tutur pria kelahiran Jakarta ini. [Humas_Unila]

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
323 Views

Terimakasih telah mengunjungi laman Dikti, silahkan mengisi survei di bawah untuk meningkatkan kinerja kami

Berikan penilaian sesuai kriteria berikut :

  • 1 = Sangat Kurang
  • 2 = Kurang
  • 3 = Cukup
  • 4 = Baik
  • 5 = Sangat Baik
x