Himapala Unesa Tunjukan Bukti Nyata Peduli Dengan Lingkungan

Keadaan bumi yang terus menerus menunjukkan ketidaknyamanannya terhadap ulah-ulah oknum yang tidak bertanggung jawab membuat banyak manusia terus bergerak mengambil simpatisme agar bisa bersama dan bertindak. Mulai individu, komunitas, instansi dan lembaga non pemerintah (NGO) bekerja sama untuk memperbaiki alam yang saat ini dihuni. Kampus juga tak ingin tertinggalkan. Baik melalui program-program yang diadakan oleh Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) maupun giat yang dilakukan tendik maupun mahasiswanya. Himpunan Mahasiswa Pecinta Alam (Himapala) Universitas Negeri Surabaya misalnya. UKM yang beridiri sejak 1978 ini memiliki 5 divisi yang berperan serta untuk menjaga keseimbangan alam.

“Kelimanya adalah divisi selam, gunung hutan, panjat tebing, susur gua dan olahraga arus deras. meski terbagi dalam divisi-divisi, kita tidak berkerja secara mandiri. Hanya saja memang untuk menampung minat pribadi. Tetap saja didalamnya pasti ada unsur kepedulian terhadap lingkungan,” kata Nizar Bagoes.

Nizar yang menjadi anggota himapala sejak 2016 menuturkan bahwa pada tiap divisi akan diberi pelatihan jelang kegiatan yang akan dilakukan. Tiap kegiatannya pasti mengandung unsur penyelamatan yang berawal dari riset. Nizar menyadari bahwa memang tidak terlihat secara real misi untuk menyelamatkan lingkungan.

“Kita juga lakukan riset kecil-kecilan. Misal saat kegiatan susur gua, pasti kita akan menemukan kehidupan didalam gua tersebut. Katakanlah kita inventarisasi. Apa saja yang kita lihat dan kita akan bandingkan dengan gua yang lainnya atau bisa juga kita bandingkan dengan rentang waktu yang berbeda selanjutnya,” kata Nizar.

Mahasiswa Ilmu Komunikasi tersebut juga menyampaikan kegiatan lain dengan misi kepedulian terhadap lingkungan. Kali ini cerita tersebut tentang kegiatan Ekspedisi Sungai Bengawan Solo dari hulu hingga hilir. Kegiatan yang dilaksanakan pada 2018 tersebut dimulai dari Wonogiri, Jawa Tengah hingga Ujung Pangkah, Jawa Timur. Kegiatan tersebut dilaksanakan selama 20 hari, dengan megidentifikasi biota-biota yang hidup di sepanjang aliran Bengawan Solo.

“Hasilnya ada beberapa biota yang ada di hulu tapi tidak ada di hilir. Biota tersebut juga menjadi indikator sehat tidaknya sebuah sungai. Bisa juga digunakan untuk melihat perkembangan biota tersebut kedepannya,” paparnya.

Bukan hanya berhenti pada Ekspedisi Bengawan Solo, Himapala Unesa juga mengadakan kegiatan Olahraga Arus Deras di Sulawesi pada pertengahan 2019. Kegiatan tersebut juga dibarengi dengan pengabdian masyarakat. Nizar menjelaskan lokasi tersebut juga terdampak bencana gempa dan tsunami di Palu.

“Kita susuri sungai terbesar di Sulawesi tersebut. Inti kegiatannya sama dengan ekspedisi Bengawan Solo, yang membedakan hanya kami juga memberikan edukasi perkara mitigasi bencana dan pola hidup bersih sehat,” kata Nizar.

Fokus lain yang menjadi kegiatan rutin ditiap tahunnya adalah kegiatan Coral Defender. Penumbuhan terumbu karang yang dilakukan di Pantai Pasir Putih Situbondo itu telah berlangsung selama tiga tahun terakhir. Nizar mengutarakan niatnya tak ingin berpindah lokasi dipengaruh oleh beberapa hal. Utamanya jika harus meninggalkan terumbu karang yang sudah mulai tumbuh begitu saja.

“Niat untuk lokasi baru pasti ada. Namun untuk menyesuaikan kembali dan melihat konsekuensi dari setiap lokasi akan berbeda pula. Di pantai ini cukup sulit untuk penumbuhannya. Jarak permukaan air dan terumbu karang juga perlu diperhatikan. Belum lagi, lokasi pantai ini yang berada ditengah. Factor gelombang air juga sangat mempengaruhi,” katanya.

Melihat kondisi alam yang saat ini justru mengalami penurunan kualitas, Nizar mengatakan bahwa awareness masyarakat sangat diperlukan.

“Terlalu general untuk menilai bahwa alam sedang kritis. Namun ada yang perlu ditingkatkan lebih. Kepedulian orang-orang akan isu-isu lingkungan serta bagaimana cara untuk membuat mereka tergerak,” ungkapnya.