SINERGI DIASPORA UNTUK TRANSFER KNOWLEDGE

Jakarta – “Saatnya menjadikan Indonesia unggul dalam kedaulatan teknologi dan reka cipta, layaknya garuda yang terbang dengan sayap, paruh, dan kakinya yang kokoh,” ucap Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kemendikbud RI, Nizam, sebagai Keynote Speaker pada Webinar Internasional yang diselenggarakan oleh Tim Kerja Akselerasi Reka Cipta Ditjen Dikti, Minggu (13/9).

Webinar internasional ini bertajuk “Gotong Royong dan Sinergi Diaspora melalui Penelitian dan Reka Cipta dalam Rangka Pemulihan Ekonomi Pasca Pandemi Covid-19 di Indonesia”. Kegiatan ini dihadiri lebih dari 400 peserta yang terdiri dari kalangan akademisi, peneliti, serta mahasiswa.

Pada kesempatan tersebut turut hadir Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Paristiyanti Nurwardani dan para narasumber yakni Professor of Information System Departement of Management Science Lancaster University Inggris Juliana Sutanto, Junior Research Group Leader Technische Universitat Braunschweig Jerman Hutomo Suryo Wasisto, Project Assistant Professor National Taiwan University of Science and Technology Iman Adipurnama, Direktur Pengembangan Usaha dan Inkubasi Universitas Gadjah Mada Hargo Utomo. Sedangkan moderator adalah Tim Kerja Akselerasi Reka Cipta Ditjen Dikti Ade Kadarisman.

Nizam menyampaikan bahwa kiprah perguruan tinggi untuk berinovasi luar biasa. Terjadi lompatan transformasi digital yang sangat luas hingga lebih dari 4500 perguruan tinggi di Indonesia. Bahkan dalam kurun waktu empat bulan ini ada lebih dari 1000 temuan reka cipta perguruan tinggi serta beberapa diantaranya sudah memasuki tahap produksi. Apalagi jika adanya dukungan diaspora untuk mengalirkan simpul potensi karya reka cipta di berbagai belahan dunia serta transfer knowledge, tentu akan berdampak baik pada kedaulatan teknologi serta pondasi ekonomi yang kokoh.

“Ide dan pengalaman diaspora di berbagai negara, harapannya mampu di adaptasikan di dalam negeri,” ucapnya.

Paris menambahkan bahwa ekosistem reka cipta yang sedang digagas oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi akan terwujud dalam sebuah platform bernama Kedai Reka. Platform Kedai Reka menjadi sarana untuk melakukan bentuk ekspresi Tridarma perguruan dan menjadi bagian dari kebijakan kampus merdeka.

Sehingga kedepannya berbagai karya penelitian para inovator perguruan tinggi tidak hanya selesai di laboratorium atau publikasi, melainkan menjadi karya reka cipta yang bermanfaat selama situasi dan pasca pandemi Covid-19.

“Kami sangat siap dan membuka kesempatan yang begitu luas bagi diaspora untuk berkontribusi bersama dalam platform ini,” ujarnya.

Pada kesempatan tersebut, Hutomo menjelaskan hakikat ilmu pengetahuan dapat digunakan dimanapun, diantaranya ilmu pengetahuan untuk pengetahuan itu sendiri, ilmu pengetahuan untuk publik, ilmu pengetahuan untuk kebijakan, dan ilmu pengetahuan untu ekonomi. Khusus dalam menghadapi situasi pandemi Covid-19 ini, ilmu pengetahuan untuk ekonomi sangat dibutuhkan dalam upaya pemulihan ekonomi pasca pandemi agar kembali kokoh.

“Pada implementasinya aktivitas penelitian di Jerman juga belum sempurna dalam hal research facility. Namun, hal tersebut dapat terjawab dengan kolaborasi yang menjadi kunci keberhasilan dalam membangun ekosistem reka cipta,” papar Hutomo. Misalnya, sinergi diaspora bersama LENA (Laboratory for Emerging Nanometrology) Jerman dalam membangun IG-NANO (Indonesian-German Center for Nano and Quantum Technologies).

“Begitupun research collaboration kami lakukan dengan LIPI dan perguruan tinggi dalam negeri seperti ITB, ITS, dan UGM,” ujarnya.

Sementara itu Juliana memaparkan bahwa dalam proses penelitian harus melibatkan stakeholder terkait. Alasannya, karena terkadang banyak core permasalahan yang tidak dapat dipahami oleh peneliti dan hanya diketahui oleh stakeholder yang bersangkutan. Bergitupun dengan fokus riset yang harus dapaat menyasar pada dampak yang dihasilkan dan bermanfaat bagi masyarakat luas.

“Maka dari itu Indonesia sebagai negara berkembang sebaiknya memfokuskan pada frugal and reserve innovation, bukan pada conventional innovation yang telah banyak dilakukan oleh negara maju,” jelas Juliana. Lalu pada prosesnya harus berorientasi pada user-centric innovation serta melakukan pengembangan inter-disciplinary innovation.

“Ketiga hal tersebut sangatlah penting dalam proses penelitian, dengan tujuan menghasilkan dampak yang besar serta menjadi solusi terhadap sebuah persoalan,” jelasnya.

Selanjutnya, Iman menyebutkan bahwa Taiwan memiliki platform bernama GLORIA (Global Research and Industry Alliance) yang memiliki kemiripan dengan platform Kedai Reka yang sedang digagas Ditjen Dikti. Gloria merupakan ekosistem reka cipta yang dikembangkan oleh Kementerian Riset Taiwan.

Dalam proses implementasinya pemerintah Taiwan juga memiliki enam pilar strategi industri yang berhasil menekan 1,5% pertumbuhan ekonomi pada kuartal 1. Keenam pilar tersebut diantaranya adalah mengembangkan industri digital informasi, cyber security, medis dan bioteknologi, pertahanan nasional, energi hijau terbarukan, dan stockpile industries.

“Global market, permintaan industri, dan talenta kampus menjadi kunci keberhasilan Gloria sebagai ekosistem reka cipta di Taiwan yang mana memiliki keterkaitan dengan visi Kampus Merdeka Kemendikbud RI,” ujarnya.

Selain itu, Hargo menjelaskan bahwa situasi saat ini menjadi situasi anomali yang tidak pernah diduga oleh masyarakat. Kondisi kedaruratan skala global mendorong bandul kehidupan masyarakat menuju keseimbangan baru dimana isu kesehatan dan ekonomi bergerak secara cepat dalam ekosistem yang dinamis. Reka cipta dilakukan untuk tujuan peningkatan daya saing (competitiveness) dan daya tangguh (resilience) bangsa, sebagai rujukan untuk menjadikan Indonesia sebagai bangsa produsen, dan bukan sekedar dijadikan pasar hasil reka cipta. Pengembangan basis industri yang bernilai tambah serta peningkatan skills dan kompetensi modal insani harus menjadi prioritas strategis.

“Semangat gotong royong harus dibawa dalam membangun engagement, sehingga reka cipta tidak hanya sebagai sebuah kebaharuan melainkan sebagai sebuah dampak,” jelasnya.

Nizam menambahkan bahwa Kedai Reka merupakan sinergi penta helix untuk membangun sumber daya manusia unggul sehingga dapat membawa karya reka cipta ke industri dan masyarakat. Kedai Reka dapat menghilirkan karya dari sebuah prototype menjadi produk yang bermanfaat. Oleh karenanya, optimisme dalam estafet panjang ini harus menjadi landasan, karena perjalanan ribuan kilo meter sejatinya dimulai dari satu langkah awal untuk memulai bersama.

“Kita wujudkan bersama Kampus Merdeka Indonesia Jaya dengan semangat gotong royong, layaknya angsa yang terbang berdampingan dan saling melengkapi untuk mencapai tujuan yang sama,” pungkasnya.
(YH/DZI/FH/DH/NH)

Humas dan Tim Akselerasi Reka Cipta Ditjen Dikti
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan