Dorong Kampus Menjadi Mata Air Gerakan Hijau Melalui Kampus Merdeka

Perubahan iklim merupakan salah satu ancaman dari 7 ancaman besar global yang sebenarnya dapat diatasi dengan pembangunan berkelanjutan. Namun, tidak seluruh masyarakat memahami tentang pembangunan berkelanjutan tersebut. Maka dari itu, terbentuklah Education for Sustainable Development (ESD) yang bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai pembangunan berkelanjutan dalam menghadapi ancaman global.

Pada acara webinar bertajuk Peran Perguruan Tinggi dalam Implementasi Adaptasi Perubahan Iklim di Era New Normal, Jumat (9/10), Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Nizam, mengatakan bahwa pada dunia pendidikan diupayakan untuk memberi atau membangun kesadaran tentang ESD. Oleh karena itu, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengikuti agenda 21 melalui pendidikan dasar, melalui orientasi program-program pendidikan atau memberikan warna ESD dalam program pendidikan, membangun kesadaran masyarakat, serta pemahaman tentang ESD.

Pengetahuan mengenai climate change sudah ada di dalam kurikulum pendidikan dan sudah masuk di dalam mata pelajaran yang sudah ada. Bahkan, dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) pun sudah dibekali pembelajaran mengenai perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), mengenalkan tentang hemat energi, dan membangun karakter sejak dini. Pada pendidikan dasar dan menengah, adanya program Adiwiyata, membangun ruang belajar yang eco-friendly atmoshphere dan budaya untuk sadar lingkungan.

Sementara pada pendidikan tinggi diadakan program kampus hijau seperti mewujudkan 3R, bike to campus, dan greenmetric untuk mengukur prestasi kampus dari seberapa hijau kampus tersebut. Greenmetric juga digunakan untuk mendorong mahasiswa agar memiliki kesadaran untuk memilah sampah, menghemat air, dan mengelola lingkungan.

Universitas Indonesia (UI) menduduki peringkat ke-36 pada peringkat greenmetric di dunia. Pada program UI greenmetric terdapat 6 aspek yang dilihat, yaitu transportasi di kampus, pengelolaan sampah atau limbah di kampus, pengelolaan infrastruktur kampus, pengelolaan energi, pendidikan tentang ESD, dan pengelolaan air.

Adapun pusat penelitian lingkungan hidup sudah ada di 48 perguruan tinggi yang berfungsi untuk renewable energy, climate change, disaster mitigation, food security, poverty alleviation, health, dan sebagainya yang sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs).

Nizam menambahkan bahwa saat ini perguruan tinggi sedang menjalankan program Kampus Merdeka untuk mendorong mahasiswa agar dapat berperan aktif di masyarakat. Terkait dengan isu lingkungan hidup, perguruan tinggi dapat menjalankan kegiatan seperti proyek-proyek mandiri untuk membangun desa hijau atau kampung hijau.

“Mahasiswa dapat mengikuti program pengabdian masyarakat dengan KKN tematik dan desa binaan, yang diharapkan dapat mendorong kampus untuk menjadi mata air bagi gerakan hijau. Namun hal tersebut harus dimulai dari kampus terlebih dahulu, karena bagaimana bisa menggerakkan gerakan hijau kalau kampus itu sendiri kumuh dan tidak ramah lingkungan,” ujar Nizam.

Nizam pun menuturkan perlunya sinergi lintas kementerian agar terciptanya program yang solid untuk melakukan konservasi lahan, mitigasi bencana, mengatasi kekeringan, menghindari kebakaran hutan, dan meningkatkan produktivitas lahan sehingga tidak terlalu banyak membuka lahan baru.

“Kami siap bersinergi untuk mempersiapkan program bersama-sama, karena program Kampus Merdeka ini sangat baik untuk memberikan ruang bagi mahasiswa kita untuk melakukan perubahan dan ikut menjadi bagian dari perubahan perilaku masyarakat, ikut mengembangkan desa hijau, mengembangkan lingkungan kumuh menjadi lingkungan sehat, melakukan penghijauan, melakukan mitigasi bencana, dan masih banyak lagi yang dapat dilakukan mahasiswa melalui program Kampus Merdeka,” pungkasnya. (YH/DZI/FH/DH/NH/MFS/VAL/YJ/ITR)

Humas Ditjen Dikti
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan