Dirjen Dikti Beri Semangat Kebangsaan Mahasiswa Indonesia di Inggris Raya dan Irlandia

Pendidikan adalah modal utama dalam membangun sumber daya manusia yang unggul. Adapun tujuan pendidikan tinggi yaitu manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, menjadi warga negara yang demokratis, bertanggung jawab (mahasiswa cinta Indonesia dan Pancasila), dan berbudaya untuk kepentingan bangsa. Hal tersebut tertuang dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi serta sesuai dengan cetak biru pendidikan nasional atau yang dikenal dengan insan Pancasila. Demikian dikatakan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kemendikbud, Nizam, pada Diskusi Virtual “Wawasan Kebangsaan: Mahasiswa Indonesia di Inggris Raya dan Irlandia”, Sabtu (24/10), yang diselenggarakan oleh KBRI di London.

Nizam menyampaikan dalam menyiapkan sumber daya manusia yang unggul, di era Revolusi Industri 4.0 ini, kita harus melakukan lompatan-lompatan kemajuan. “Hal tersebut terlihat pada bagaimana Gojek, Bukalapak, dan Tokopedia adalah sebuah perkawinan antara teknologi dan ojek atau shopping store (industri). Sehingga pada masa pandemi ini ekonomi Indonesia tidak terlalu terjun bebas ke jurang resesi karena mampu mengangkat ekonomi secara masif,” pungkasnya.

Di hadapan para mahasiswa Indonesia di Inggris Raya dan Irlandia, Nizam pun mengingatkan bahwa saat ini dunia tengah dihadapkan dengan tantangan global demografi dunia dimana negara-negara maju mengalami penuaan atau aging society, sementara Indonesia sedang memasuki proses bonus demografi. Sebagai generasi penerus bangsa, para mahasiswa Indonesia diharapkan dapat mempersiapkan diri dan berkontribusi dalam pembangunan Indonesia. Sehingga nantinya Indonesia dapat memanfaatkan bonus demografi dan dapat memasuki persaingan global.

Selanjutnya, terkait dengan topik diskusi, Nizam pun menyampaikan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kemendikbud memiliki berbagai program untuk memupuk wawasan kebangsaan bagi mahasiswa di perguruan tinggi Indonesia. Beberapa program, diantaranya, adalah penguatan pembinaan ideologi Pancasila dalam kegiatan kemahasiswaan, penguatan pembinaan dan peningkatan wawasan kebangsaan, serta pelatihan bela negara bagi mahasiswa, dosen, dan pimpinan perguruan tinggi.

Pada kesempatan yang sama, Wakil Kepala Perwakilan Republik Indonesia Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di London, Adam Tugio menyampaikan bahwa peringatan Hari Sumpah Pemuda jatuh pada tanggal 28 Oktober, dimana momen tersebut dapat dimanfaatkan untuk merefleksikan wawasan kebangsaan guna menghidupkan kembali etos kebangsaan Indonesia dan bagaimana khususnya para pemuda Indonesia yang bersekolah di luar negeri dapat memberikan kontribusi terhadap tanah air.

“Karena pemikiran-pemikiran maju dalam rangka persiapan Indonesia Merdeka, muncul dari para pemuda Indonesia yang bersekolah di luar negeri,” katanya.

Untuk itu, lanjut Adam, para mahasiswa Indonesia yang berada di London tidak hanya aktif dalam melakukan diplomasi kebudayaan, tetapi juga aktif dalam melakukan science diplomacy, yaitu memajukan Indonesia melalui diplomasi ilmu pengetahuan. Selain itu, aktif dalam mempromosikan Indonesia melalui kerjasama saintifik antar perguruan tinggi di Indonesia dan London. Hal tersebut merupakan wujud konkret cinta tanah air dan nasionalisme dari para mahasiswa Indonesia yang bersekolah di London.

“Saya bangga dengan apa yang sudah dilakukan para mahasiswa di sini, karena mereka aktif membantu KBRI. Seperti melalui Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) UK yang selama ini bertugas untuk melakukan outreach dan monitoring serta menjadi hotline services untuk para mahasiswa maupun WNI yang memiliki masalah dan pertanyaan mengenai Covid-19,” ucapnya.

Sementara itu, Plt. Direktur Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik Kementerian Luar Negeri RI, Teuku Faizasyah melihat wawasan kebangsaan sebagai cara pandang bangsa Indonesia tentang diri dan lingkungannya berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 yang disesuaikan dengan perspektif dari masing-masing kawasan nusantara.

Dalam hal ini, Teuku menyampaikan mahasiswa berperan sebagai agen perubahan yang memiliki kemampuan untuk mengaktualisasikan pemikiran dalam berbagai bidang. Untuk itu, mahasiswa harus mampu menyesuaikan diri dengan cepat agar dapat menjadi penggerak dari kemajuan pembangunan nasional mengingat tantangan global kian bermunculan.

“Sebenarnya mahasiswa lah yang menjadi duta Indonesia serta menjadi frontliner dalam mengenalkan Indonesia kepada masyarakat asing di sana. Apapun yang bisa dilakukan dalam konteks mewakili Indonesia akan sangat berharga dengan mengenalkan sisi Indonesia yang mungkin tidak diketahui masyarakat di sana karena begitu banyaknya distorsi informasi di era global saat ini,” tutur Teuku.
(YH/DZI/FH/DH/NH/MFS/VAL/YJ/ITR)

Humas Ditjen Dikti
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan