LAMPUNG – Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir hadir dalam Simposium Nasional Akuntansi (SNA) ke-XIX yang dilaksakan di Gedung Serbaguna Universitas Lampung, Kamis (25/8).

Acara tersebut dihadiri kurang lebih 800 peserta yang sebagian besar merupakan praktisi, dosen maupun pendidik profesional di bidang akuntasi. Menurut Nunuy Nurma, Ketua IAI KAPd sebagai Ketua Panitia acara SNA kali ini mengatakan penyelenggaraan SNA kali ini luar biasa dengan atensi yang besar dari peserta.

Tema Simposium Nasional Akuntasi ke XIX 2016 kali ini yang dipilih adalah “Pendidikan Akuntansi Sebagai Katalis Revitalisasi Peran Akuntan : Kolaborasi Stakeholder Untuk Akuntan Indonesia Unggul”.

“Kita sudah mengalami pasang surut, tapi kita menuju stabilitas pendidikan di bidang akuntansi, hal tersebut terlihat dari banyaknya partisipasi baik dari paper-paper dan indikator lain yang semakin bertambah,” ujarnya Nunuy.

Tantangan bagi profesi akuntan ke depan akan semakin berat. Hanya dengan kompetensi yang teruji, Akuntan Indonesia memiliki daya saing kuat di era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) dan persaingan global yang semakin tanpa batas. Karena itu, saya mendorong penataan profesi ini mengacu pada best practice global dengan mengedepankan kualitas dan profesionalisme akuntan Indonesia sebagai prioritas, sambil secara terus-menerus memacu peningkatan akuntan profesional secara kuantitas.

“Saya mendorong semua stakeholders Akuntan untuk bersama-sama menyukseskan agenda penataan profesi ini. Saya juga mendorong kerjasama perguruan tinggi dan profesi untuk menghasilkan sebanyak mungkin Akuntan Profesional Indonesia berkaliber internasional. Perguruan tinggi menyiapkan bahan bakunya, lalu profesi dan industri yang akan mengasah dan menjaga kompetensi serta integritasnya,” kata Nasir.

Menurut Menteri Nasir sudah jelas sekali di Undang-undang No. 12 tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi diatur tentang pendidikan profesi. Oleh karenanya dengan tantangan yang semakin besar bagi pendidikan profesi, maka harus didorong terus bila tidak ingin tergilas permasalahan-permasalahan baru seiring waktu.

“Jangan sampai pendidikan profesi berjalan seperti pendidikan reguler. Tapi ada kompetensi sendiri yang dibangun dalam pendidikan profesi. Jadikanlah pendidikan profesi ini menjadi profesi yang unggul dan bergengsi,” tegasnya.

Nasir mengatakan harus ada kesinambungan yang baik dan linier antara pendidikan akademik, vokasi dan profesi. Hal itu akan menjadi basis riset yang baik juga, terutama pada bidang akuntansi.

Pada acara SNA kali ini Menristekdikti juga menyerahkan penghargaan Lifetime Achievement Award kepada Prof. Zaki Baridwan yang dianggap berjasa untuk dunia akuntansi Indonesia. (Dzi)