Yogyakarta- Terkait pengembangan negara dalam bidang ilmu pengetahuan dan pendidikan tinggi, Sekretaris Jenderal Kemristekdikti Ainun Na’im memaparkan hal pendanaan pendidikan tinggi dan riset di Indonesia pada Kick Off Meeting : Seminar Nasional Kebijakan Ilmu Pengetahuan dan Pendidikan Tinggi Indonesia Menyongsong Transformasi Masyarakat Baru, Sabtu (22/08) di Balai Senat Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.

“Negara perlu investasi lebih besar di sektor pendidikan tinggi untuk meningkatkan akses maupun kualitas pendidikan tinggi.” ungkapnya. Jika tidak negara akan mengalami kerugian besar karena mahasiswa dengan kemampuan akademik tinggi akan lebih memilih belajar dan berkarir di luar negeri.

Menurut Ainun, negara perlu memberikan insentif kepada sektor swasta dan masyarakat yang memberikan kontribusi pada perkembangan pendidikan tinggi di Indonesia. “Pemerintah tidak bisa berjalan sendiri, partisipasi pihak swasta atau masyarakat perlu diberikan apresiasi dengan pemberian insentif. “ tambah Ainun.

Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) bekerjasama dengan Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) menggelar kick off meeting yang merupakan pertemuan awal dari seminar nasional yang rencananya akan digelar akhir tahun 2015 dimana akan dirumuskan desain besar arah kebijakan di bidang ilmu pengetahuan dan pendidikan tinggi.

“Kami ingin menghasilkan semacam buku putih yang bisa menjadi rujukan penyusunan kebijakan iptek dan pendidikan tinggi.” ujar Sangkot Marzuki selaku Ketua AIPI. Untuk itu dalam gelaran  yang diadakan selama dua hari itu mengundang para pemikir, pelaku serta pemangku kepentingan di dunia iptek dan pendidikan tinggi untuk saling bertukar pikiran serta memberi pandangan sehingga menghasilkan rekomendasi untuk dapat ditindaklanjuti oleh pemerintah selaku pembuat kebijakan.

Pembicara lainnya dalam acara tersebut antara lain Sofian Effendi yang memaparkan tema “Menuju Pendidikan Tinggi Unggul”,  Sangkot Marzuki, Iwan Pranoto (Atase Pendidikan India) serta M. Amin Abdullah. Turut hadir pula Dirjen Sumber Daya Ilmu Pengetahuan dan Pendidikan Tinggi, Ali Ghufron dan Staf Ahli Bidang Akademik Kemristekdikti, Paulina Pannen selaku moderator.