Masih jauh panggang dari api, merupakan kalimat yang bukan tanpa alasan jika sampai saat ini masih mengiang dan pantas disematkan kepada Program Hilirisasi produk hasil penelitian dari berbagai perguruan tinggi dan lembaga litbang di Indonesia, kenapa?? Karena hingga saat ini masih sangat sedikit jumlahnya dan bahkan tidak terlihat produk hilir hasil penelitian dan rekayasa perguruan tinggi dan lembaga litbang dimanfaatkan di Industri dan masyarakat.

Meskipun diharapkan menjadi jargon dalam mengakselerasi pemanfaatan hasil riset yang ada di Perguruan Tinggi dan Lembaga litbang, makna penggabungan antara rumpun riset dan teknologi dengan pendidikan tinggi hingga kini belum memperlihatkan hasil secara signifikan, walaupun berbagai upaya telah banyak dilakukan. Hal itu dapat dilihat dari menurunnya indeks daya saing yang direlease oleh World Economic Forum (WEF) dalam The Global Competitiveness Report 2016 yang menyebutkan bahwa posisi daya saing Indonesia tahun ini berada di peringkat 41, turun dibanding tahun sebelumnya yaitu dari peringkat 37, sementara itu, Singapura berada di peringkat 2, Malaysia 25 dan Thailand 34. Hal ini menegaskan bahwa di level ASEAN pun kita harus bekerja keras mengejar ketertinggalan tersebut terutama dalam pilar kesiapan teknologi, pilar pendidikan tinggi dan training, pilar infrastruktur dan pilar institusi.

Melihat tingkat kesiapan teknologi di negara maju, kemajuan teknologi, informasi dan komunikasi (TIK) telah digunakan untuk mempercepat transaksi perdagangan dan terbukti telah mengubah budaya dan peradaban dunia, terutama bagi pertumbuhan perekonomian suatu bangsa. Banyak pihak menilai bahwa era globalisasi, umat manusia akan mengalami perubahan tatanan kehidupan yang sangat cepat dan mendasar, yang dipicu oleh pesatnya perkembangan sistem dan teknologi informasi. Tanda-tanda ke arah itu telah dimulai ketika batas-batas antar-negara sudah terlewati dengan adanya arus informasi yang semakin bebas bergerak setiap saat dengan jangkauan yang semakin luas ke seluruh pelosok negeri. Aliran arus dalam sistem dan teknologi informasi ini telah mendorong arus perekonomian dunia semakin cepat dan terintegrasi. Sistem dan teknologi informasi ini telah memicu akselerasi dinamika perpindahan manusia dan barang yang kemudian mendorong berkembangnya berbagai sektor lainnya, bahkan juga telah mempermudah perpindahan arus modal, baik antar kawasan maupun antar negara

Dan bila bercermin pada data yang disajikan oleh International Data Corporation (IDC) (tahun 2015), belanja Sistem dan Teknologi Informasi Indonesia diperkirakan mencapai USD 14,1 miliar pada tahun 2015, meningkat sebesar 8,3% atau mencapai USD 15,3 miliar pada tahun 2016 dan menyumbang 2,7% terhadap produk domestik bruto Indonesia. Dikatakan, pertumbuhan belanja Sistem dan Teknologi Informasi di Indonesia adalah yang terbesar dibanding negara-negara Asia Tenggara lainnya. Namun fakta membuktikan bahwa kemajuan sistem dan teknologi informasi di Indonesia tidak sepenuhnya berdampak pada kehidupan yang lebih baik bagi sebagian masyarakat pelaku bisnis diberbagai sektor ekonomi. How??

Apa sesungguhnya yang terjadi ?

Dibalik cepatnya perkembangan sistem dan teknologi informasi tersebut terdapat sejumlah masalah serius yang dihadapi, salah satu diantaranya adalah adanya informasi asimetrik yang disebabkan oleh terbatasnya kemampuan dalam adopsi dan adaptasi teknologi. Hal itu berakibat terbentuknya rantai nilai yang tidak seimbang dalam proses inovasi diberbagai bidang bisnis dan hilirisasi.

Transaksi yang dilakukan di setiap rantai nilai hulu-hilir terhadap komoditas pertanian, misalnya, pada umumnya di “menang”kan oleh pedagang atau pemilik sistem dan teknologi informasi yang kuat. Petani pada umumnya memiliki posisi tawar yang lemah karena kebanyakan diantaranya tidak memiliki sumberdaya, modal dan informasi yang cukup. Petani tetap miskin, sementara pedagang memiliki kehidupan yang jauh lebih baik.

Dalam industri kreatif, pengrajin memiliki peran yang sangat kuat dalam menentukan nilai seni dan kreativitas hasil produksi. Hasil karya seni menjadi berlipat ganda tergantung dari tingkat kemampuan pengrajin dalam mengekspresikan karya seninya kedalam produk nyata. Namun faktanya hasil produksi karya seni tidak sepenuhnya mengakibatkan peningkatan kehidupan pengrajin secara signifikan. Informasi asimetrik ini juga terjadi di beberapa sektor pembangunan lainnya di Indonesia, rantai nilai inovasi belum berjalan seimbang. Dalam proses inovasi masih terjadi ketidak-seimbangan aliran pendapatan disetiap rantai nilai yang dibangun, sehingga proses hilirisasi hasil riset masih mengalami kendala.

Membangun komunikasi efektif.

Komunikasi merupakan pertukaran gagasan, pendapat, informasi, instruksi yang memiliki tujuan tertentu yang disajikan secara personal atau impersonal melalui simbol – simbol atau sinyal. Dalam komunikasi terdapat enam unsur pokok, yaitu : tujuan, pertukaran informasi, gagasan, media melalui beberapa keterampilan seperti membaca, menulis, berbicara dan mendengar.

Stephen Covey menegaskan bahwa, komunikasi merupakan keterampilan yang penting dalam hidup manusia bukan sekedar apa yang ditulis atau dikatakan, tetapi juga bagaimana karakter dan caramenyampaikan pesan. Sebaliknya, penerima pesan tidak hanya sekedar mendengar kalimat yang disampaikan tetapi juga membaca dan menilai sikap pemberi pesan. Sehingga dapat dikatakan bahwa karakter kokoh yang dibangun dari fondasi etika serta integritas pribadi yang kuat menjadi syarat utama dalam komunikasi yang efektif.

Setinggi berbakatnya seseorang, secanggih unggulnya sebuah tim atau sehebat kuatnya hukum yang melindungi, keberhasilan tidak akan diperoleh, tanpa ada penguasaan keterampilan komunikasi yang efektif. Keterampilan melakukan komunikasi yang efektif merupakan faktor kunci dalam mendukung pencapaian tujuan dari seluruh aktivitas, khususnya dalam tingkat kemampuan untuk mengirimkan informasi yang akurat, kemampuan untuk menjadi pendengar yang baik, serta keterampilan menggunakan berbagai media. Informasi dapat disampaikan secara efektif, jika memenuhi sedikitnya tujuh syarat utama, yaitu : 1) Completeness (Lengkap), 2) Conciseness (Singkat), 3) Consideration (Pertimbangan), 4) Concreteness (konkrit). 5) Clarity (Kejelasan), 6) Courtessy(Kesopanan), dan 7) Correctness (ketelitian).

 Re-focussing..

Melihat bagaimana pesan yang efektif dapat disampaikan atau diterima dalam suatu sistem dan proses inovasi, maka secara substantif rantai dalam proses inovasi perlu dilakukan pembenahan secara mendasar, dimulai dari penguatan sumberdaya, kelembagaan dan jaringan. Penguatan sumberdaya dilakukan dengan meningkatkan infrastruktur riset, sumber daya manusia iptek yang berkompetensi, serta penguatan data dan informasi tentang Kekayaan Intelektual dan jurnal, peningkatan konten TIK; pengembangan teknologi dan konten untuk data dan informasi geospasial; dan penelitian pendukung yang meliputi riset sosial dan penyediaan akses terhadap TIK bagi masyarakat. Hal ini menjadi tantangan bagi lembaga litbang, perguruan tinggi, industri dan komunitas untuk melakukan riset dan pengembangan guna menghasilkan teknologi sekaligus menyiapkan tenaga terampil dalam jumlah yang memadai dan berkualitas. Penguatan sumberdaya ini akan membuat pelaku dalam rantai dan proses inovasi saling bersinergi dan membangun proses yang seimbang sehingga sistem dan proses inovasi akan semakin sederhana efektif dan efisien.

Keseimbangan distribusi pendapatan akan semakin seimbang di setiap mata rantai. Pemanfaatan sistem dan teknologi informasi perlu ditingkatkan, bertujuan untuk meningkatkan efektivitas komunikasi antar mata rantai nilai yang dibangun dalam suatu sistem inovasi.

Dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi terdapat tiga pilar kewajiban yang harus dilakukan oleh Perguruan Tinggi, yaitu 1) pendidikan, 2) penelitian, dan 3) pengabdian kepada masyarakat. Pilar kedua dan ketiga (penelitian dan pengabdian kepada masyarakat) perlu mendapat perhatian secara serius agar. Perguruan tinggi kedepan tidak hanya melahirkan tenaga terdidik dan terampil saja, tetapi harus mampu berkontribusi secara langsung pada pembangunan perekonomian dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Kelembagaan inovasi harus dibangun secara terstruktur dan terinci sesuai kebutuhan, begitu pula dengan kelompok-kelompok kerja, sehingga rantai nilai dalam proses inovasi dapat dibangun secara efektif an efisien.

Pengembangan jaringan inovasi ini dilakukan dalam rangka membangun komunikasi dan sinergi antar pelaku, pengembangan klaster industri serta dalam rangka penyelarasan terhadap perkembangan global, pemanfaatan teknologi perangkat lunak berbasis Open Source untuk mendukung e-Government, e-Business, e-Services, e-Health. Kohesi sosial antar pelaku inovasi dapat ditingkatkan melalui Open Methode Coordination (OMC) yang dapat dilakukan setiap saat dengan menggunakan e-Meeting.

 Perubahan Paradigma Pendidikan Tinggi dan Litbang.

Tuntutan peran lembaga pendidikan tinggi dan Litbang untuk membuat produk penilitian berskala pasar, mengakibatkan perguruan tinggi tidak hanya menjadi “teaching university, tetapi juga menjadi research university” dan bahkan menjadi “innovation university”. Lembaga Litbang perlu terus meningkatkan penelitian, pengembangan dan alih teknologi untuk menjawab persoalan yang muncul di masyarakat, sehingga dinamika dan kualitas hidup di masyarakat akan semakin baik dan mampu mengikuti perkembangan dinamika lingkungan strategis. Sesungguhnya inilah salah satu misi dan esensi pengabungan Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi yaitu membawa pendidikan tinggi kedalam area inovasi.

Untuk membangun dan menumbuhkan budaya inovasi, sebuah institusi tidak dapat berjalan sendiri-sendiri, namun harus terkoordinasi dalam suatu Sistem yang kita kenal dengan Sistem Inovasi Nasional (SINas). Oleh karena itu jejaring dan interaksi diantara berbagai komponen dan unsur dalam sistem inovasi yang terdiri dari akademisi, industri, pemerintah dan masyarakat harus terjalin dengan kuat.

Dalam rangka mendukung jejaring dan interaksi dalam SINas perlu dibentuk konsorsium yang melibatkan akademisi, industri, pemerintah dan masyarakat. Oleh karena itu, kebijakan, program dan kegiatan di Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi diarahkan untuk mendorong munculnya inovasi-inovasi produk anak bangsa melalui konsorsium inovasi yang dapat diakses secara mudah.

Strategi pelaksanaan kegiatan kedepan??

Pembentukan Klaster Inovasi, Pengembangan Science Techno Park (STP), Riset Pro, Pusat Unggulan Iptek (PUI), insentif sentra Hak Kekayaan Intelektual, program insentif riset Sinas, program insentif teknologi yang dimanfaatkan industri, program insentif diseminasi produk teknologi ke masyarakat, program insentif Inkubasi Bisnis Teknologi, program inovasi perguruan tinggi dan Lemlitbang di industri, program Intermediasi Iptek dan program Technopreneurship perlu difokuskan kedalam suatu sistem inovasi nasional menggunakan teknologi informasi yang dapat diakses oleh semua unsur pelaku inovasi sehingga sistem inovasi dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien.

Dengan memanfaatkan sistem dan teknologi informasi yang selaras dengan kebutuhan maka informasi asimetrik yang terjadi di rantai hulu-hilir dalam proses inovasi dapat dieliminasi. Para pelaku di mata rantai inovasi akan mendapatkan haknya secara adil, tidak ada mata rantai yang gemuk dan kurus, semua unsur akan mendapatkan keuntungan yang sesuai dengan haknya.

Oleh : DR. Ir. Agus Puji Prasetyono, M.Eng. (Staf Ahli Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi Bidang Relevansi dan Produktivitas)

Sumber: http://www.wargapeduli.com/2016/10/informasi-asimetrik-penghambat-implementasi-hasil-riset/