Siaran Pers
Nomor : 58/Sipers/V/ 2020

Jakarta – Pandemi Covid-19 memicu energi positif dalam implementasi dan pelaksanaan tri dharma perguruan tinggi. Tidak hanya revolusi dalam bidang pembelajaran dan pengabdian masyarakat, namun juga dalam pelaksanaan riset di berbagai kampus. Pelaksanaan riset yang sebelum masa pandemi dapat memerlukan waktu hingga bertahun-tahun. Namun pada masa pandemi ini dalam waktu yang pendek perguruan tinggi mampu mengembangkan riset dan menghasilkan berbagai prototipe inovasi, khususnya inovasi-inovasi peralatan maupun perlengkapan di bidang kesehatan yang sangat dibutuhkan untuk penanganan pandemi Covid-19. Hal ini disampaikan oleh plt. Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Nizam pada Webinar Nasional dengan tajuk “Riset, Inovasi dan Aplikasi untuk Menanggulangi Wabah dan Dampak Covid-19” yang diselenggarakan oleh Universitas Andalas pada Jumat (15/5).

Nizam mengapresiasi langkah cepat perguruan tinggi dengan melakukan berbagai kolaborasi riset dan pengembangan dalam upaya pemenuhan berbagai peralatan maupun perlengkapan medis yang sangat dibutuhkan untuk penanganan pandemi Covid-19. Pada masa pandemi ini berbagai kampus merespon dengan cepat kelangkaan peralatan maupun perlengkapan medis melalui berbagai riset, pengembangan maupun rekayasa balik (reserve engineering) berbagai peralatan kesehatan. “Peralatan-peralatan kesehatan yang selama ini pemenuhannya melalui impor, ternyata bisa kita produksi sendiri,” ujar Nizam.

Nizam mencontohkan ventilator. Alat ini sangat dibutuhkan untuk membantu pernafasan pasien yang terpapar Covid-19. Alat ini sangat langka di pasar dan harganya pun mahal. Oleh karena itu berbagai perguruan tinggi dan lembaga penelitian berupaya membuat ventilator dengan berbagai kemampuan dari ventilator portabel sampai dengan ventilator yang dapat digunakan untuk pasien Intensive Care Unit (ICU). Institut Teknologi Bandung (ITB) mengembangkan ventilator dengan nama Vent-I. Ventilator dengan kemampuan Continuous Positive Airway Pressure (CPAP) ini saat ini telah masuk fase produksi bekerja sama dengan PT. Dirgantara Indonesia. Kemudian ada Ventindo, ventilator hasil pengembangan Universitas Gadjah Mada. Ventilator dengan kemampuan Sincronized Intermitten Mandatory Ventilation (SIMV) ini merupakan ventilator yang dapat digunakan untuk membantu pernafasan pasien yang dirawat di ruang ICU. Ventindo ini siap masuk fase produksi oleh Toyota dan INKA.

Selain itu, Nizam juga menjelaskan bahwa perguruan tinggi juga berhasil melakukan riset dan pengembangan alat deteksi Covid-19. Di awal pandemi, perangkat untuk deteksi Covid-19 sangatlah terbatas. Saat ini kolaborasi berbagai perguruan tinggi dengan lembaga penelitian telah mengembangkan berbagai Tes Kit untuk deteksi Covid-19 antara lain RT-LAMP, RI-GHA19, dan berbagai perangkat deteksi Covid-19.

Pada kesempatan yang sama, Menristek/Kepala BRIN Bambang P.S. Brodjonegoro menjelaskan bahwa untuk mendukung percepatan penanganan pandemi Covid-19 dibutuhkan kolaborasi antar lembaga litbang, perguruan tinggi, BUMN dan sektor lain. Untuk itu Kemristek/BRIN membentuk suatu konsorsium riset dan inovasi Covid-19 yang beranggotakan LPNK, BUMN, Kementerian Kesehatan, BPOM, Perguruan Tinggi, dan Diaspora.

Di sisi lain Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno menyatakan apresiasi terhadap dukungan Universitas Andalas dalam penanganan Covid-19. Irwan Prayitno menjelaskan bahwa dukungan perguruan tinggi melalui riset atau pun kajian-kajian Covid-19 sangat membatu pemerintah daerah dalam pengambilan kebijakan dalam penanganan pandemi Covid-19. Irwan Prayitno mencontohkan penggunaan laboratorium Fakultas Kedokteran Universitas Andalas sangat membantu pemerintah dalam melakukan deteksi paparan Covid-19. Laboratorium ini mampu menangani 300 sampel setiap hari. “Testing dini ini sangat membantu pemerintah dalam melakukan tracking dan pengendalian pandemi Covid-19 di Sumatera Barat,” jelas Irwan Prayitno.

Webinar Nasional dengan tajuk “Riset, Inovasi dan Aplikasi untuk Menanggulangi Wabah dan Dampak Covid-19” yang diselenggarakan oleh Universitas Andalas ini selain menghadirkan pembicara Menristek/Kepala BRIN, plt. Dirjen Pendidikan Tinggi dan Gubernur Sumatera Barat, juga menghadirkan pembahas antara lain para guru besar, peneliti dan praktisi yang merupakan civitas akademik Universitas Andalas. (YH/DZI/MSF/ADR/BG)

Humas Ditjen Dikti
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan