SIARAN PERS

No. 12/SP/HM/BKKP/II/2017

Sidoarjo, 20 Februari 2017

Kebutuhan implan nasional saat ini sangat mendesak. Pemenuhan kebutuhan nasional akan bahan baku biomaterial untuk produksi alat kesehatan (alkes) implan yang diperlukan pada penyelenggaraan jaminan kesehatan mengalami peningkatan, seiring meningkatnya angka kecelakaan lalu lintas.

Saat ini, Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan kian hari makin berhasil menjangkau lebih banyak masyarakat Indonesia. Namun, ketidakseimbangan pembiayaan untuk supply dan demand menyebabkan BPJS Kesehatan mengalami defisit. Untuk mengurangi defisit itu maka sangat diperlukan pengembangan alat kesehatan yang berkualitas dan murah melalui pengembangan industri alat kesehatan dalam negeri. Hampir 94 persen produk alkes masih impor, sisanya sebanyak 6 persen produk dalam negeri berskala sederhana.

Saat ini industri implan nasional sudah dimulai dengan menggunakan metode produksi permesinan, namun permesinan bahan baku (impor) mengakibatkan metode ini tidak efisien karena prosesnya yang lama dan tingginya waste, disamping bahan bakunya sangat tergantung bahan baku import. Untuk itu diperlukan proses produksi yang yang lebih ekonomis dengan kualitas yang baik.

Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi melalui pendanaan insentif inovasi industri telah mendanai proses trial production teknologi pembuatan medical grade stainless steel 316L pada tahun 2015 untuk pembuatan 3 jenis implan tulang yang menghasilkan 500 keping prototipe implan.

Produk ini dikembangkan oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) melalui Pusat Teknologi Material bekerjasama dengan PT. Zenith Allmart Precisindo dan RSU Dr. Soetomo dengan pemaduan dan pemurnian bahan baku lokal serta menggunakan bahan baku hasil industri semelter dalam negeri yaitu feronikel Pomalaa produk PT. Aneka Tambang.

CEO PT. Zenith Allmart Precisindo, Allan Chandrawinata menyatakan prototipe implan tulang yang dikembangkan tersebut dapat terwujud berkat dukungan riset melalui program pendanaan dari Kemenristekdikti.

Sebagai wujud komitmen untuk menghapus ketergantungan impor, pihaknya akan membangun fasilitas produksi implan setelah izin produksi dan izin edar telah didaftarkan.

Stainless steel 316L yang dihasilkan telah memenuhi komposisi kimia bahan sesuai ASTM F138 (316L Implant Quality) dan kekuatan mekanis ASTM F138 (316L Implant Quality). Hasil uji medis tidak berbeda dengan Implan import- Synthes ex . Swisszerland.

Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Mohamad Nasir mengapresiasi inovasi ini yang telah sangat mendorong kemandirian alat-alat kesehatan.

“Dalam hal ini peneliti juga tidak bisa bekerja sendirian melainkan tim. Kolaborasi antara peneliti dengan industri sangat baik untuk dilakukan. Kalau sudah dapat izin produksi mohon dimasukkan di e-catalog supaya produk ini dapat dimanfaafkan,”ujarnya saat Kunjungan Kerja ke PT. Zenith Allmart Precisindo, di Sidoarjo, Senin, 20 Februari 2017

Kebutuhan akan implan tulang di dalam negeri sendiri saat ini sekitar 80.000-100.000 keping per tahun. Saat ini industri implan nasional memang sudah menggunakan metode produksi pemesinan. Namun pemesinan bahan baku impor mengakibatkan metode ini tidak efisien karena prosesnya yang lama.

Pengembangan teknologi produksi prototipe implant tulang stainless steel 316L (SS316L) menggunakan teknologi investment casting, yang mampu menghasilkan implant tulang dalam jumlah banyak dalam waktu lebih cepat karena 1 tangkai bisa langsung lebih dari 30 keping implan. Mampu menghasilkan produk near shape finish karena cetakan telah sesuai produk akhir.

Jenis teknologi mass production seperti ini mampu menekan harga produk menjadi lebih rendah, perhitungan awal diperkirakan bisa mencapai lebih harga lebih dari 70% produk impor.

Terdapat kode identifikasi di tiap keping nanti yang mampu ditelusuri tanggal dan bagaimana proses produksinya.
Keunggulan lainnya juga terdapat sistem informasi cloud untuk keperluan analisis guna mengetahui jumlah disitribusi dan berapa yang sudah terpasang di tubuh manusia.

Estimasi tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) prototype implan ini sendiri sekitar 70-80%. Dengan semua keunggulan tersebut diharapkan dapat mengurangi ketergantungan impor

Untuk kegiatan di tahun 2017 Kemenristekdikti akan melanjutkan dana pendampingan pada industri untuk proses pengurusan sertifikasi produksi dan ijin edar sesuai standar kesehatan.

“Setelah penyediaan fasilitas dan pengurusan perizinan selesai, proses pembuatan implan yang lebih kompleks seperti untuk kasus fraktur atau patah tulang akan kami coba kembangkan seperti untuk replacement tulang panggul, dan lain-lain,” jelas Allan Chandrawinata.

##

informasi lebih lanjut :
Direktorat Jenderal Penguatan Inovasi Kemenristekdikti
Gedung II BPPT, Jl. MH Thamrin No.8, Jakarta Pusat