Untuk pertama kalinya salah satu perusahaan holding dan investasi UGM, PT Gamatechno Indonesia, terpilih menjadi salah satu dari 25 Most Creative Companies 2017 kategori Perusahaan Umum versi Majalah SWA. Dalam daftar ini, Gamatechno bersanding bersama beberapa perusahaan besar seperti PT KAI, PT Telekomunikasi Indonesia (Indiehome), PT Pertamina Lubricants, PT Cakrawala Andalas Televisi (ANTV), PT Astra Daihatsu Motor, PT Net Mediatama Televisi (NET. TV), dan PT Insera Sena (Polygon).

“Sudah sejak beberapa waktu yang lalu kami telah menyertakan beberapa produk kami ke dalam kompetisi-kompetisi nasional. Tapi kalau untuk menerima apresiasi seperti ini memang baru pertama kalinya,” ujar Direktur Utama Gamatechno Muhammad Aditya A.N., Rabu (17/5).

Hasil riset yang dipublikasikan Majalah SWA memberikan penilaian bahwa Gamatechno menjadi salah satu perusahaan yang memiliki kemampuan dalam berinovasi dan berkreasi baik dari segi produk maupun proses bisnisnya. Pencapaian ini, menurut Aditya, menjadi kebanggaan tersendiri bagi perusahaan yang resmi berdiri pada tahun 2005 ini. Meski demikian, ia mengaku tidak menyangka Gamatechno dapat masuk dalam salah satu pemeringkatan yang rutin dirilis oleh majalah tersebut, bahkan disandingkan bersama beberapa nama besar yang sudah lebih lama berkiprah.

“Kami merasa sangat bangga dan juga terkejut, karena sebelumnya dari pihak SWA tidak pernah melakukan survei apa pun terhadap kami, sehingga kami juga tidak membayangkan penilaiannya seperti apa. Tapi di sisi lain ini berarti bahwa portfolio perusahaan kami cukup mendapat perhatian,” paparnya.

Ketika ditanya tentang keunggulan Gamatechno, Aditya menjawab bahwa hal yang menjadi pembeda dari perusahaan lain adalah inovasi yang dilakukan perusahaan ini sebagai salah satu pengembang smart city. Beberapa produk Gamatechno yang dinilai merupakan inovasi baru adalah diimplementasikannya eTicketing Trans jakarta dan Trans Jogja, aplikasi NAXI yang merupakan aplikasi layanan taksi online, serta produk smart campus Gamatechno yang telah diterapkan di berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Dalam penilaian majalah SWA, Gamatechno masuk sebagai salah satu perusahaan yang mewakili bidang bisnis Information Communication Technology (ICT).

“Sejak tahun 2014, saya boleh bilang bahwa kami adalah salah satu inisiator di Indonesia yang mengangkat tema smart city, karena kami telah melihat pergerakan tren ke arah sana. Karena itu dalam pengembangannya kami mengemas untuk lebih spesifik ke sana,” ujarnya.

Dalam beberapa tahun terakhir, imbuhnya, Gamatechno memfokuskan pengembangan dalam 4 sektor utama, yatu pendidikan, layanan publik, transportasi, serta gaya hidup, dengan saling terintegrasi. Hal inilah, menurut Aditya, yang membedakan Gamatechno dengan perusahaan lain yang kebanyakan masih bersifat parsial dalam satu bidang tertentu.

Penghargaan bergengsi dari Majalah SWA ini sendiri merupakan bentuk apresiasi bagi perusahaan-perusahaan yang melakukan inovasi dan kreativitas tanpa henti serta kinerjanya tetap konsisten. Dalam metodologi pemilihannya, Tim Riset SWA memilih 100 kandidat perusahaan yang paling menonjol di bidang inovasi dan kreativitas, sebelum akhirnya menetapkan 25 perusahaan yang nilainya paling sesuai dengan kriteria penilaian. Kriteria penilaian Tim Riset SWA di antaranya meliputi tingkat kreativitas atau kemampuan perusahaan dalam berinovasi dan berkreasi baik produk maupun proses bisnis, dampak terhadap bisnis dan industri, serta tingkatkeberlanjutan inovasi dan kreativitas.

Dalam waktu mendatang, Aditya berharap agar Gamatechno dapat terus mengembangkan luas cakupan serta kualitas bisnis mereka untuk dapat lebih banyak berkontribusi bagi pembangunan nasional, utamanya terkait pengembangan produk dan solusi teknologi informasi di berbagai sektor yang menjadi bidang kerja mereka.

“Untuk jangka panjang, target kami pada tahun 2020 dapat menjadi market leader dalam pembangunan smart city. Selain itu, dalam jangka pendek kami juga mencanangkan untuk memperkuat posisi kami, misalnya dalam pelayanan sektor publik harapannya tidak hanya memberikan solusi dalam moda pembayaran tapi bisa masuk untuk jalan tol, termasuk untuk mengintegrasikan MRT dan LRT yang sedang dikembangkan di Jakarta,” pungkasnya. (Humas UGM/Gloria)