Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi ancaman bagi kota Yogyakarta dengan jumlah kasus yang mencapai 623 kasus pada paruh pertama tahun 2016. Untuk mengatasi hal ini, mulai Agustus 2016 hingga pertengahan 2017, tim Eliminate Dengue Project (EDP) Yogyakarta akan menyerahkan sekitar 6.000 ember berisi telur nyamuk Aedes aegypti ber-Wolbachia ke rumah-rumah warga.

“Mulai Agustus 2016 hingga pertengahan 2017 nanti secara bertahap akan dititipkan sekitar 6.000 ember berisi telur nyamuk Aedes aegypti ber-Wolbachia di sebagian rumah warga Kota Yogyakarta yang terpilih dan bersedia. Harapannya dalam kurun waktu tertentu, nyamuk ber-Wolbachia akan kawin dengan nyamuk setempat dan menghasilkan keturunan ber-Wolbachia yang menghambat penularan DBD ke manusia,” papar ketua peniliti EDP Yogyakarta, Prof. dr. Adi Utarini, M.Sc., M.P.H., Ph.D.

Hal ini ia sampaikan dalam acara peletakan perdana telur nyamuk Aedes aegypti ber-Wolbachia, Selasa (31/8) di Museum Sasana Wiratama Diponegoro. Turut hadir dalam kegiatan ini Wakil Gubernur DIY Paku Alam X, Dirjen Riset dan Pengembangan Kemristek Dikti Muhammad Dimyati, Kepala Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta dr. Vita Yulia, Wakil Rektor UGM Bidang Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Prof. Dr. Suratman, serta dr. Sjakon Tahija dari Yayasan Tahija.

Nyamuk Aedes aegypti ber-Wolbachia merupakan hasil dari penelitian yang dikerjakan oleh EDP Yogyakarta, Fakultas Kedokteran UGM, dengan pendanaan dari Yayasan Tahija Indonesia. Nyamuk ini mampu menekan pengembangbiakan virus DBD. Sebelumnya, EDP telah melakukan penyebaran nyamuk ber-Wolbachia di Kabupaten Sleman dan Bantul, meski dengan metode yang berbeda. Di Sleman, EDP menyebarkan nyamuk yang telah dewasa dan siap untuk berkembang biak. Selanjutnya, di wilayah Bantul, EDP mulai menggunakan telur nyamuk dengan siklus pergantian air sebanyak 12 kali yang dilakukan setiap 2 minggu.

“Kali ini untuk wilayah kota kita melakukan inovasi, yaitu dengan memperpendek jangka waktunya dengan siklus yang hanya 8 kali namun tetap memiliki hasil yang sama,” ujar Adi yang menjabat sebagai Wakil Dekan Fakultas Kedokteran UGM Bidang Penelitian, Pengabdian Kepada Masyarakat dan Kerjasama.

Hal ini disambut baik oleh Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X yang mengapresiasi program ini sebagai solusi untuk mengatasi persoalan DBD yang menurutnya memerlukan penanganan serius.

“Saya menyambut baik dan memberikan dukungan sepenuhnya atas terlaksananya pengembangan inovasi teknologi pengendalian DBD melalui nyamuk Aedes aegypti ber-Wolbachia ini. Saya berharap agar program ini dapat didukung sepenuh hati dan secara sinergis oleh seluruh komponen masyarakat demi berkurangnya atau bahkan hilangnya penyebaran penyakit DBD di lingkungan sekitar kita,” ujarnya dalam sambutan yang dibacakan oleh Paku Alam X.

Dalam beberapa bulan mendatang, diperkirakan populasi nyamuk Aedes aegypti dapat mencapai 60%. Penelitian Wolbachia ini nantinya juga diharapkan dapat terus dikembangkan untuk menjadi solusi bagi penyakit chikungunya dan zika yang juga dibawa oleh nyamuk Aedes aegypti. (Humas UGM/Gloria)