BOGOR – Pertemuan Forum Industri Pangan yang diikuti sejumlah peneliti di bidang pangan, pelaku industri pangan, kalangan kampus dan pemerintah  yang diselenggarakan di IPB International Convention Center (IICC), Rabu 24 Mei 2017 menghasilkan sebuah kesepakatan Memorandum Bogor. Isi dari memorandum ini adalah berbagai upaya semua pihak yang terkait dalam rangka mendukung kemandirian pangan nasional.

Tema dari Forum Industri Pangan ini sendiri adalah “Kolaborasi pemanfaatan  hasil riset dalam rangka mendukung kemandirian pangan nasional” dan diikuti ratusan peserta dari seluruh Indonesia. Acara ini hasil kerjasama antara Dirjen Penguatan Inovasi Kementerian Ristek Dikti dengan Institut Pertanian Bogor (IPB).

Memorandum Bogor sendiri berisi tiga hal mendasar dalam upaya memperkuat kolaborasi lintas pemangku kepentingan dalam pemanfaatan hasil riset untuk mendukung kemandirian pangan nasional. Ketiga memorandum tersebut adalah, pertama, Berupaya meningkatkan dan mengembangkan semangat berinovasi di lingkungan perguruan tinggi dan lembaga penelitian dan pengembangan untuk menghasilkan sumberdaya manusia (termasuk petani dan peternak), teknologi dan proses yang mendukung kemandirian pangan nasional.

Kedua, Bersepakat untuk bersinergi meningkatkan daya saing dan jejaring industri pangan Indonesia dan aktif melibatkan petani dan peternak serta seluruh pemangku kepentingan industri pangan dari hulu ke hilir, dan ketiga,  Berupaya mendapatkan dukungan pemerintah, swasta nasional dan internasional dalam berbagai aspek demi terwujudnya implementasi hasil riset yang optimal untuk penguatan kemandirian pangan nasional.

Memorandum Bogor ini ditandatangani perwakilan peserta Forum Industri Pangan, diantaranya adalah Santoso Yudo Warsono (Direktur Inovasi Industri, Dirjen Penguatan Inovasi Kementerian Ristekdikti), Prof. Anas M Fauzi (Institut Pertanian Bogor), Prof Helmi (Universitas Andalas), Dr Sudirman Baco (Universitas Hassanudin), Dr. Syahruddin Said (LIPI)  Karnadi Winaga (PT Karya Anugerah Rumpin), Jo Tjong Seng (PT. Tiga Pilar Sejahtera) dan Nana Laksana Ranu (ASBENINDA).

fib0“Dengan adanya memorandum ini kami berharap semua pihak yang terlibat bisa mendukung kemandirian pangan nasional,’’ harap Dirjen Penguatan Inovasi Kemenristekdikti Jumain Appe.

Selain menandatangani Memorandum Bogor, Forum Industri Pangan juga menyepakati sebuah rumusan “Rumusan Forum Industri Pangan” yang berisi tentang gagasan-gagasan dalam usaha mendorong kemandirian pangan nasional.

Buah dari penerapan iptek dan kebijakan untuk mendorong inovasi pertanian adalah kemampuan untuk menghasilkan inovasi yang dapat mendongkrak dan menghela ekonomi nasional yang berkelanjutan.

Kemandiran pangan sangat bersayarat dengan kemampuan nasional untuk memanfaatkan sumberdaya alam lokal dengan menggunakan  iptek yang dihasilkan anak bangsa sehingga menguatkan kemampuan nasional dan menurunkan ketergantungan kepada negara lain. Ini hanya bisa dicapai jika upaya kolektif (kolaboratif) dari pemerintah (pusat, propinsi, daerah), perguruan tinggi (akademisi), bisnis, lembaga keuangan, dan petani dapat digalang secara sistematik dan sisnergis untuk saling menguatkan dengan pemerintah sebagai komando kolaborasi.

Usaha mencapai kemandirian pangan perlu pendekatan integratif dari hulu ke hilir untuk penerapan  inovasinya. Proses bisnis pertanian dari hulu ke hilir perlu dikuatkan dengan dukungan teknologi informasi untuk pencatatan data-data yang relevan untuk kebutuhan pemantauan, kendali dan perencanaan serta prediksi produksi dan profit yang akurat dan tepat waktu. Teknologi informasi perlu dibuat semudah dan sesederahan mungkin untuk dapat digunakan oleh kelompok tani agar dapat menerapkan bisnisnya dengan lebih rasional dan profitabel.

Beberapa pemikiran yang mengemuka dan relevan untuk mengembangkan kolaborasi pemanfaatan hasil riset dalam mendukung kemandirian pangan nasional diantaranya :

  • Kerjasama antara Perguruan Tinggi (akademisi/peneliti), industri, dan pemerintah serta masyarakat perlu diperkuat agar inovasi yang dihasilkan dapat segera diimplementasikan dan dihilirisasi di masyarakat dalam rangka meningkatkan daya saing Pertanian, Pangan, dan Peternakan.
  • Kerjasama antara perguruan tinggi, industri, pemerintah, dan masyarakat harus menghasilkan model-model bisnis yang mampu meningkatkan daya saing. Oleh karena itu, pembentukan konsorsium sangat penting dilakukan dan mampu membuat Roadmap bisnis industri pangan yang didorong oleh inovasi (innovation-driven economy),
  • Science Technopark (STP) menjadi salah satu platform dan sarana interfacing yang sangat baik untuk diterapkan oleh berbagai stakeholders untuk berjalan bersama dalam rangka mewujudkan kemandirian pangan di Indonesia
  • Forum untuk konsolidasi peneliti termasuk pemulia, industri, pemerintah dan masyarakat perlu dikembangkan di tingkat nasional. Integrasi ABGC harus diimplementasikan secara riil melalui kerjasama yang saling menguntungkan
  • Riset langsung dalam pengembangan bisnis perlu dikembangkan seperti model-model “Maiwa Beef”, NES (Nagari Elok Sejahtera), dsb.
  • Diperlukan grand strategy pembangunan untuk kemandirian pangan yang melibatkan bukan hanya Kementan sebagai aktor utama tetapi juga stakeholder lainnya
  • Diperlukan sinergi kebijakan terkait usaha swasembada daging sapi, agar kebijakan yang diambil berbasis ilmu pengetahuan dan untuk mengoptimalkan kemampuan dalam negeri” isi dari Rumusan Forum Industri Pangan.

“IPB menghasilkan banyak penelitian di bidang pangan dan hasil penelitiannya siap digunakan kalangan industri dalam rangka kemandirian pangan nasional,’’ jelas Rektor IPB Prof. Dr. Ir. Herry Suhardiyanto, M.Sc memberikan penjelasan kepada awak media. (*)

fib1 fib9

 

DJPI/HKLI