BATAM – Amerika Serikat, Perancis, dan Jepang merupakan tiga Negara yang memiliki tenaga nuklir terbanyak dan terbesar di dunia. Tak heran jika sektor industri, pariwisata, hingga pertanian di Tiga Besar Negara Maju ini berkembang dengan sangat cepat. Lantas, bagaimana dengan tanah air? Indonesia patut berbangga karena sesaat lagi, Indonesia akan memiliki tenaga pemasok listrik berbasis nuklir atau yang akrab disebut Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). Adapun PLTN ini nantinya akan dibangun di Pulau Batam.

Rencana pemanfaatan energi nuklir sebagai pembangkit listrik dalam program energi nasional telah diputuskan oleh pemerintah pada 1985 dengan mempertimbangkan ketersediaan sumber energi fosil yang kian terbatas. Studi mengungkapkan bahwa sumber energi baru dan terbarukan, seperti panas bumi, angin, matahari, biomasa, dan nuklir layak dipertimbangkan sebagai substitusi sumber energi fosil.

Dalam upaya mendorong Batam untuk terus berkembang menjadi kawasan industri yang mandiri dalam kebutuhan listrik, BP Migas dan BATAN menjalin kerja sama mengembangkan energi nuklir. Sejak tahun 2015 BATAN sudah menugaskan Tim untuk melakukan studi awal (pre-elemenary study) untuk mengetahui potensi wilayah Batam dibangun PLTN.

Kepala BATAN, Djarot S. Wisnubroto dalam Seminar Nasional Teknologi Nuklir 2016 di Auditorium Politeknik Negeri Batam (5/8) mengatakan bahwa pemilihan Batam sebagai lokasi PLTN ialah karena dari seluruh investasi asing ke Indonesia, Batam menyumbangkan sekitar 1,1 % dan diantara wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Indonesia, 30% merupakan wisatawan Pulau Batam. Tak pelak, pertumbuhan industri juga meningkat pesat, terutama industri pesawat terbang dan galangan kapal. Pertumbuhan tersebut harus ditopang dengan kecukupan pasokan listrik. Pulau Batam yang bertumbuh dengan pesat sebagai kawasan industri, perdagangan, dan pariwisata membutuhkan infrastruktur ekonomi yang kuat, termasuk pasokan listrik untuk mempertahankan keberlangsungan pertumbuhannya.

Sebagai langkah implementasi awal, BATAN melakukan sosialisasi dengan menggandeng Politeknik Negeri Batam menyelenggarakan Seminar Nasional Teknologi Nuklir 2016. “Seminar nasional adalah sebagai cara untuk menjalin kerjasama dan menyampaikan pemahaman kepada anak-anak muda bahwa Batam memiliki potensi sebagai lokasi pengembangan teknologi nuklir yang ideal,” tekan Wisnubroto.

Ia menilai, selain karena letaknya yang strategis, juga karena mayoritas mahasiswa menyetujui adanya nuklir lewat jajak pendapat kecil yang dilakukan BATAN. “Kalau kita sudah sampaikan kepada anak muda, maka akan berkesinambungan. Semoga dukungan tetap berlangsung dan kerjasama Poltekneg Batam dan BATAN untuk pengembangan nuklir dapat berjalan dengan baik,” harap Wisnubroto.

Seminar ini berguna untuk mendapatkan masukan dari berbagai pihak, termasuk dari para penentu kebijakan energi, pakar energi dan listrik, praktisi dan akademisi, serta masyarakat luas terkait dengan potensi Pulau Batam untuk dibangun PLTN.

Keuntungan PLTN dibandingkan pembangkit listrik lain, diantaranya adalah akan menghasilkan emisi gas rumah kaca pada operasi normal. PLTN memungkinkan tidak akan menghasilkan gas berbahaya semacam karbon monoksida, mercury, aerosol, dan lain-lain.

Energi nuklir menjadi kebutuhan penting di seluruh dunia maupun Indonesia saat ini. Batam dapat  menjadi pondasi awal PLTN di Indonesia yang dapat menyejahterakan kehidupan masyarakat hingga kancah nasional maupun internasional. (dzi/eva)