SEMARANG – Banyumanik, salah satu wilayah Kecamatan di kota Semarang. Dalam bahasa Jawa, nama Banyumanik berarti air yang berkilauan seperti berlian. Nama ini diberikan oleh Nyi Ageng Pandanaran ketika dirampok di wilayah ini. Air mata tangisan Nyi Ageng berubah menjadi mata air selebar periuk yang kilau-kemilau.

Siapa sangka, etimologi itu terjadi di dunia nyata. Dibalik hingar-bingar kota Semarang, ada satu kilau mata air terpancar dalam diri Putri Ana Indarwati, seorang penerima Beasiswa Bidikmisi dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Diponegoro (Undip).

Jalan setapak yang harus dilalui untuk masuk menuju rumahnya menandakan bahwa dirinya memang memiliki keterbatasan secara ekonomi. Namun hal itu tak menyurutkan semangatnya untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang Pendidikan Tinggi.

Menristekdikti Mohamad Nasir didampingi Rektor Undip Yos Johan Utama, senin (3/10) berkesempatan menemuinya di rumahnya yang cukup sederhana di Gedawang, Banyumanik. Lulusan SMAN 4 Semarang itu pun nampak terperangah dan sumringah ketika melihat Menteri Nasir hadir langsung mengunjunginya.

“Putri harus belajar yang rajin, prestasinya harus naik, kami berikan beasiswa kurang lebih selama 4 tahun untuk Putri,” ucap Nasir kepada Putri yang diterima melalui jalur SBMPTN Undip.

Nasir katakan bahwa penyaluran Beasiswa Bidikmisi sampai saat ini sudah tepat sasaran, ini terbukti dengan laporan dan fakta di lapangan yang menunjukkan hal itu.

“Intinya adalah Negara selalu hadir untuk memutus mata rantai kemiskinan, anak bangsa yang berprestasi dan memiliki keterbatasan ekonomi, kami bantu untuk menyelesaikan pendidikannya,” jelas Nasir.

Putri pun menanggapi kedatangan Nasir dengan memberikan harapan besar. “Saya ingin lulus cepat supaya membantu mengurangi beban orang tua. Saya ingin tunjukkan kalau kekurangan secara ekonomi bukan halangan, terima kasih kepada Pemerintah yang telah berikan beasiswa untuk saya,” ucap Putri yang merupakan anak buruh cuci ini. (DZI)