Jakarta – Menristekdikti didampingi oleh Dirjen Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Dirjen Sumber Daya Iptek Dikti, Kepala Biro Kerja Sama dan Komunikasi Publik serta Kepala Biro Hukum dan Organisasi menerima kunjungan kehormatan dari Wardana (Dubes RI untuk Turki) dan Dirjen Amerika dan Eropa, Kementerian Luar Negeri di Gedung Kemristekdikti pada Kamis (13/10).

Kunjungan tersebut membicarakan tentang nasib 248 mahasiswa Indonesia penerima beasiswa Pasific Countries Social and Economic Solidarity Association (PASIAD) yang sedang belajar di Turki.

Pasca aksi percobaan kudeta tanggal 15 Juli 2016, Pemerintah Turki menyatakan bahwa PASIAD adalah salah satu organisasi yang memiliki kaitan dengan kelompok Fetullah Terror Organization (FETO) yang dituduh sebagai pelaku kudeta tersebut. Akibatnya Pemerintah Turki tengah intensif melakukan “pembersihan” terhadap orang – orang yang ditenggarai mendukung kelompok FETO. Dampak dari situasi dalam negeri Turki saat ini, donatur yang selama ini memberikan beasiswa kepada mahasiswa tersebut telah menarik diri karena tidak mau mengambil resiko dianggap berhubungan dengan FETO. Hal ini berdampak pada penghentian beasiswa sehingga mengganggu kelangsungan proses belajar mahasiswa Indonesia di Turki.

Wardana mengatakan dari total 248 mahasiswa penerima beasiswa PASIAD, yang terdiri dari beberapa tingkatan semester, 191 orang diantaranya berasal dari keluarga kurang mampu. Bahkan mahasiswa yang tinggal diasrama atau rumah yang berhubungan dengan PASIAD harus segera keluar, jika masih tetap bertahan, konsekuensinya akan terkena operasi pembersihan meskipun tidak terkait. Akibatnya terdapat 55 orang mahasiwa Indonesia yang ditampung di wisma KBRI Ankara.

Pemerintah dalam hal ini Kemenristekdikti dan Kemenlu harus segera membantu para mahasiswa tersebut. Untuk itu, karena kondisi darurat dan mendesak, Kemenlu menggunakan dana perlindungan untuk membantu para mahasiswa selama periode September – Desember 2016. Sementara untuk pemberian bantuan beasiswa untuk tahun 2017 dan seterusnya, sesuai arahan Bapak Wakil Presiden akan dicarikan sumber pembiayaan dari Kemenristekdikti dan Kemenkeu. Menristekdikti mengatakan, “selama tidak melanggar aturan, kami akan membuat skema bantuan untuk menolong para mahasiswa tersebut”. Dana bantuan tersebut bisa diambil dari Kerjasama Negara Berkembang (KNB) atau program Afirmasi Pendidikan Tinggi (ADik). Selanjutnya Wardana mengundang Menristekdikti beserta pejabat pada jajaran terkait untuk datang ke Turki untuk melihat langsung bagaimana nasib dan kondisi mahasiswa Indonesia di Turki. Kemungkinan pada awal Desember pada saat kunjungan Kerja ke Inggris, Menristekdikti beserta delegasi akan menyempatkan waktu untuk berkunjung ke Turki. (nva)