Achmad Solikhin, mahasiswa S3 Departemen Teknologi Hasil Hutan, Fakuktas Kehutanan (Fahutan) Institut Pertanian Bogor (IPB) berhasil memenangkan Student AwardSchweighofer Prize 2017, di Austria. Penghargaan bergengsi sektor kehutanan Eropa ini diperuntukan bagi innovator muda dunia, diikuti oleh mahasiswa dan pebisnis kehutanan. Acara ini melibatkan 44 negara dengan pebisnis kehutanan kayu terkenal dunia dan untuk student award ada 36 perguruan tinggi di seluruh dunia. Namun, hanya perwakilan dari enam perguruan tinggi yang masuk nominasi calon pemenang.

Achmad mengaku sempat minder karena melihat saingannya yang berasal dari kampus-kampus ternama dunia, yakni ETH Zurich, Pennsylvania;University British Columbia; Tokyo University; NCSU; dan Toronto University. Dalam ajang penghargaan tersebut, Achmad mengangkat sebuah riset dari kayu superhidrofobik, seperti lotus dan talas. Dalam riset tersebut Achmad berupaya meningkatkan kekuatan kayu dengan impreganansi menggunakan material nano.

“Sebenarnya itu adalah ide riset, belum terimplementasikan sebelumnya. Itu dulu bagian disertasi yang dihapus saat sidang komisi, hanya saja tambahannya adalah superhidrofobik. Tapi alhamdulillah dinilai aplikatif dan scientific applicable untuk industrial kehutanan dunia ke depannya, yang disampaikan oleh juri-juri ahli Eropa,”ujarnya ketika ditanya soal gagasannya tersebut.

Gagasan kayu superhidrofobik ini dilatarbelakangi oleh kayu di Indonesia yang cepat tumbuh, memiliki sifat inferior sehingga perlu ditingkatkan kekuatannya dengan menggunakan nanoteknologi. Kayu Superhidrofobik memiliki karakterisasi sudut kontak lebih dari 150 derajat (receding and advancing contact angle), sudut histerisis kurang dari 10 derajat, memiliki kekasaran permukaan ukuran nano dan mikro kasat mata, serta energi permukaan yang rendah sehingga ketika air didrop atau dijatuhkan ke kayu maka akan menggelinding.

Achmad Solikhin mengatakan, semangat melakukan inovasi ini karena ia mengaku haus akan ilmu dan hal-hal baru. “Selain itu, sebagai mahasiswa kehutanan, hutan perlu dijaga dan dilestarikan untuk kepentingan altruistic, selain masalah perubahan iklim, dan lain-lain,” ujarnya.(SM)